Rabu, 25 Desember 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL 3


Sudah enam jam aku berada didalam ruang operasi, Azzam sedari tadi sudah tidak bisa diam menungguku. Akhirnya lampu tanda operasi pun mati, seorang suster keluar dari ruang operasi.
“Bagaiamana suster?” tanya Azzam
“Silahkan tunggu Dokter Fajar di Ruangannya” Ujar suster tersebut
                Suasana mencekam diruang dokter, Abi dan Ibu duduk dikursi saat itu. Sedang Azzam, dia masih harap-harap cemas.
“Silahkan duduk” ucap dokter Fajar saat sampai keruangan
“Dokter, bagaimana kondisi Zahra?” tanya Abi
“Operasinya berjalan Lancar” Ujar Dokter Fajar
“Alhamdulillah” secara bersamaan mereka bertiga mengucap itu.
“Setiap keberhasilan pasti ada sesuatu yang dikorbankan, Penglihatan sebelah kiri Zahra sudah tidak berfungsi lagi” Dokter Fajar mengucapkan hal itu secara hati-hati.
“Zahra cacat?” tanya Abi
“Untuk saat ini iya. Tapi untuk urusan ini mungkin dia bisa melakukan operasi cangkok mata”
“Saya tau ini tidak mudah diterima. Tapi saya ucapkan terimasih yang sedalam-dalamnya pada Dokter Fajar” ucap ibu
                Percakapan menyakitkan itupun akhirnya sampai ketelingaku seminggu kemudian saat perban dimataku dilepas, saat mendengar aku buta sebelah. Aku hanya tersenyum karena aku tidak ingin ada air mata yang keluar dari mata mereka saat itu.
                TOKSOPLASMA, silahkan kau bermukim ditubuhku bersama dengan virus hiv itu. Tapi jangan kau serang orang-orang yang berada dihadapanku ini, biarkan aku saja yang merasakan sakit ini. jangan yang lain.

                Sulit sekali untukku melihat dengan satu mata, aku sering terjatuh saat ingin berjalan ke kamar mandi. Selain itu juga, aku merasa bahwa tubuhku sulit sekali untuk dikendalikan sekarang. Keseimbangan motoric kiri dan kanan pun sudah tidak karuan, sekejam ini kah tuhan memberikan ujian kepadaku?

                Sempat pada satu ketika, aku benar-benar ingin buang air kecil. Namun nahas kaki kiriku nampak seperti memberontak. Tidak ada satupun orang diruangan yang luas ini, “Toloooong” batinku berkata, tapi sayang tidak ada seorangpun disana. Pertahananku sudah jatuh, aku merasakan celanaku sudah basah. Sebegitu lemahnya kah tubuhku saat ini?
                Azzam muncul dari balik pintu masuk, aku memalingkan wajahku dan menangis dihadapannya. Rasa malu memuncak saat ini. Azzam hanya terdiam, wajah tenang khas menghiasi ekspresi dirinya. Kemudian dia Memencet bel darurat dikamar untuk memanggil Suster. Masuklah dua orang suster saat itu, Air mataku masih tetap keluar. Kenapa harus Azzam yang masuk?

                Setelah keadaan sudah membaik, dan aku sudah mulai tenang. Abi memulai pembicaraan kepadaku
“Kenapa ga bilang sama Abi kalau mau ke kamar mandi?” Tanya Abi
“Ia tidak mau menyusahkan orang-orang bi” jawabku
“Justru dengan ego Zahra yang seperti ini, Zahra udah ngerepotin banyak orang” Ucap Abi
                Aku hanya terdiam, entah kenapa aku seperti sulit untuk berfikir beberapa hari ini. mungkin karena memang aku masih merasa terpukul karena aku divonis cacat.
                Azzam membuka pintu kamar dengan membawakan beberapa buah-buahan, aku melihat wajahnya benar-benar tanpa ekspresi seperti banyak sekali masalah yang dia hadapi. Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkannya tapi yang aku tau, ini bukan sosok Azzam yang biasanya.
“Assalamualaikum” ucap Azzam
“Waalaikumussalam Azzam” jawab Abi
“Bi, Azzam sudah pesankan kamar hotel disebelah rumah sakit buat Abi. Abi istirahat dulu aja, biar malam ini Azzam yang menemani Zahra” Ucapnya
“Gapapa Zam, Abi disini aja”
“Abi sudah dua hari belum tidur, gapapa biar Azzam malam ini yang jaga”
                Abi kemudian mengambil Jaket kulit khasnya kemudian berkemas mengenakan sepatunya, dan mengambil kunci kamar hotel di atas meja.
“Abi titip Zahra ya Azzam” ucap Abi
“Siap Bi” jawab Azzam
                Setelah keluar ruangan, Azzam mengambil kursi kemudian duduk disampingku.
“Zahra, sekali lagi abang minta maaf ya” ucapnya
“Maaf kenapa bang?” tanyaku
“Masalah handphone” jawabnya
“Seperti yang biasa ia bilang ke abang, Abang ini orangnya kalau gak suka ngomongnya ngasal. Yaaa ngilangin barang, Ia udah biasa sama sifat abang yang begini” jawabku sedikit tegas kepada Azzam
                Azzam tersenyum, akhirnya wajah yang dari tadi datar tanpa ekspresi pun berubah menjadi berseri-seri.
“Bang, bagaimana keadaan toko Abang” tanyaku
“Sudah gabisa diselamatkan, mungkin abang akan mengulang semuanya lagi dari 0” jawabnya sambil tersenyum
“Ia senang abang sudah berubah” ucapku
“Abang gini-gini aja Ra” jawabnya
“Ibu kapan balik ke sini Bang?” tanyaku
“Besok pagi Insya Allah”
                Setelah percakapan itu, entah karena efek obat atau memang sudah malam. Aku mengantuk kemudian tertidur. Namun kembali terbangun dini hari sekitar pukul 2, saat terbangun aku melihat Azzam telungkup tertidur disebelahku. Tanganku bergerak membenarkan rambutnya yang berantakan.
“Bang, ada beberapa hal yang gabisa ia katakana secara langsung pada abang” ucapku mulai meracau. Pedahal pada saat itu Azzam masih tertidur dengan lelapnya.
“Terimakasih bang, udah selalu ada disisi ia”
“Terimakasih bang atas semua dukungan yang sudah abang berikan kepada Ia”
“Ketika ia melihat abang menemukan mimpi abang, masa depan terlihat jelas. Itu membuat ia Bahagia”
“Abang akan belajar banyak hal dan bertemu dengan banyak orang baru”
                Entah kenapa air mata ini mulai keluar bersamaan dengan kata-kata yang aku lontarkan. Rasa syukur saat ini atas nikmat yang diberikanNya benar-benar membekas didalam hati. Aku selalu memaksimalkan setiap detik dalam hidupku ini.
“Dan mulai sekarang pun, abang akan hidup untuk waktu yang lama. Abang memiliki masa depan membentang tanpa batas”
“Tapi, Berbeda dengan Ia. Masa depan? Bagaimana bisa Ia memikirkan masa depan sekarang? Apa yang bisa Ia lakukan untuk terus hidup?”
                Mungkin hanya itu, hanya itu yang dapat aku pikirkan. Karena memang tidak ada yang dilakukan untuk mengubah perbedaan itu. Aku bertarung dengan diriku setiap hari. Aku menderita, dan ini menyakitkan. Aku berjuang dengan sekuat tenaga untuk menahan perasaan ini.
“Ia berpikir bang, kalau Ia tidak mendapat penyakit ini. Ia akan melakukan hal yang mungkin Ia belum pernah lakukan bersama Abang”
“Ia hanya terus menginginkan mimpi-mimpi yang tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan”
“Ia tidak pernah menyalahkan abang, karena tentu saja itu bukan kesalahan abang”
“Tapi entah kenapa Ia begitu iri, Ia merasa kasihan pada diri sendiri. Bagaimanapun juga dengan diri ini yang sekarang. Ia hanya akan tumbuh lebih menderita. Jika seperti ini terus, Ia tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menatap masa depan”
“Ia Berterima kasih atas banyak hal yang telah abang lakukan untuk Ia”
“Terimakasih Abang telah mengatakan “Aku peduli denganmu”. Kepada orang seperti Ia”
“Terimakasih Bang”
“Maaf Ia tidak dapat melakukan apapun untuk abang sebagai gantinya”
“Hati ini sakit ketika Abang terus berada di Sisi Ia, Sakit karena Ia merasa bersalah sudah mengekang Abang dalam kehidupan Ia yang menyedihkan ini”
                Aku menatap wajah Azzam, terlihat dari kelopak matanya. Dia mengeluarkan airmata, yang artinya sedari tadi Azzam mendengar perangai ku.
“Abang udah bangun?” tanyaku. Kemudian Azzam menegakkan kepalanya dan mulai menghela nafas Panjang.
“Sama-sama” Jawab Azzam sambil menyeka airmatanya.
“Kenapa kamu begitu pesimis pada keadaan?” lanjut Azzam
                Aku tak dapat menjawab, hanya suara tangis yang keluar dari mulutku. Bahkan aku seperti setengah mengamuk karena mungkin merasa bersalah. Azzam mencoba menenangkanku, berkali-kali dia membenarkan jilbabku yang berantakan. Sampai akhirnya dia beranjak dari kursi disebelahku dan duduk di Sofa dan merenungi keadaam.

                Setiap aku mengingat masa lalu, itu membuat air mataku keluar. Kenyataan begitu kejam, begitu brutal, aku bahkan tidak bisa bermimpi. Memikirkan masa depan hanya akan membawa air mata ini keluar lagi. Apa tujuan aku hidup? Kemana aku harus pergi? Meskipun tidak ada jawaban, setidaknya aku merasa lebih baik dengan menuliskan ini semua. Aku mencari uluran tangan, tapi aku tidak bisa merasakannya, aku tidak bisa melihatnya. Yang bisa aku lihat hanyalah kegelapan. Lalu mendengar suara dari jeritan keputusasaanku.

FINNA ABIDA AZZAHRA

0 komentar:

Posting Komentar