Kamis, 11 Juli 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL 2



MENCINTAIMU DALAM DIAM


Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.


            Ketika aku sudah mulai beradaptasi dengan tempat ini, banyak sesuatu yang terjadi di kota yang berjuluk “Kota Satria”. Setiap malamnya aku selalu berdoa agar dilindungi setiap harinya oleh Allah swt.
            Aku ingat satu momen ketika aku berniat ke tempatnya membawakan makanan sebagai rasa terimakasihku kepadanya karena kemarin dia sudah membantuku. Jarak rumahku dengan tempatnya tinggal lumayan jauh, sekitar 4 Kilometer.

            Sesampainya disana, terlihat pintu rumah itu tidak tertutup.

“Assalamualaikum” Salamku kepada orang yang ada didalam rumah
“Waalaikumsalam Zahra, ada apa nih Zahra?” Sahut dan tanya Reza kepadaku
“Bang Azzamnya ada Za?” tanyaku
“Azzam aja yang dipanggil abang” gumamnya kecil, namun aku mendengarnya.
“Kenapa Za?” tanyaku
“Enggak, Azzamnya ada didalem. Masuk aja” Jawab Reza

            Aku duduk diruang tamu, sedangkan Reza masuk kedalam untuk memanggil Azzam.

“Zam, ada Zahra tuh” ucap Reza
“Zahra? Ngapain tuh anak kesini?” tanya Azzam
“Ya harusnya gua yang nanya Zam”
“Yaudah, samperin lah. gimana sih” ucap Azzam dengan nada sedikit meninggi.

            Kemudian Azzam datang menemui dengan membawa sebotol air minum

“Maaf Cuma air mineral, karena hanya ini yang aku punya” Ucap pembuka Azzam.
“Gapapa Bang Azzam, Tujuan saya kesini juga bukan mau minta air kok” Ucapku
Sambil tersenyum Azzam berkata “Yasudah, ambil saja”
“apa tujuanmu kesini?” tanya Azzam sinis
“Ini Bang, saya mebawakan makanan buat kamu. Karena kemarin sudah bantuin saya pada saat kuis” ucapku sambil menyerahkan beberapa makanan
“Makasih ya sebelumnya, maaf merepotkanmu” ucap Azzam
“Sama-sama bang Azzam. Saya pamit pulang dulu bang” ucapku sekalian pamit.
“Iya Zahra. Silahkan”

            Azzam mengantarku sampai depan gang, sembari menunggu transportasi online.

“Zahra, hati-hati ya” ucap Azzam
“Insya Allah bang” Jawabku tersipu
“Itu Ojeknya sudah datang, kabarin kalau sudah sampai”
“Iya, pulang dulu ya” ucapku.
            Mungkin itu kata-kata yang biasa, namun sepertinya kata-kata yang dilontarkan oleh Azzam terlalu berbekas. Apa arti dari perasaan ini? Entahlah, semoga ini menjadi pertanda baik untukku kedepannya.

“Zam, enak tuh kayaknya” ucap Reza
“Makan aja, abisin. Gapapa kok” Jawab Azzam
“Loh? Kenpapa?” tanya Reza
“Gua bingung aja sama tuh anak, udah tau gua gabisa makan keju. Dikasih pisang keju” Ucap Azzam sedikit emos.
“Yaudah, buat gua ya”
“Ambillah, Ambil abisin lah, mau muntah gua liat keju”
            Keesokan harinya, saat dikampus aku melihat Azzam dan Rezza sedang berjalan berdua memasuki lobi.
“Assalamualaikum Bang Azzam, Reza” Sapaku
“Waalaikumussalam Zahra, adem banget deh. Dipagi-pagi disalamin sama calon istri sholehah” ucap Reza.
“Kumsalam” Jawab Azzam singkat.
“Bang Azzam, jawab salamnya kok gitu?” ucapku kelepasan.
“Yaa terserah gua dong, mau jawab gimana juga”ucap Azzam kesal
“Abang Azzam lagi kenapa? Kok gak biasanya?” tanyaku
“Pikir aja sendiri” Jawabnya, kemudian Azzam pergi meninggalkan kami berdua.
“Reza, Bang Azza, kenapa?” tanyaku pada Reza
“Mungkin kesel karena kemaren” jawabnya
“Kesel??” aku semakin bingung apa yang terjadi
“Gini, gua tanya deh ke elu Ra. Kemaren lu ngasih apa ke Azzam?” tanya Reza
“Pisang keju” jawabku

            Seketika aku teringat sebuah kejadian dirumah Rifan malam itu.
“Astagfirullahal adzim” Lanjutku
“Lu tau kan Ra, Azzam sama keju itu punya hubungan yang kurang baik?” ucap Reza
“Saya lupa Za, bagaimana ini?” tiba-tiba air mata bersalah ini menetes begitu saja
“Udah udah, biar gua aja yang urus tuh Anak” Reza kemudian pergi menyusul Azzam.
            Aku merasa malu sekali karena kejadian itu, aku bingung harus melakukan apa. Dengan perasaan yang tak karuan ini, aku mencoba masuk kedalam kelas.

“Zam, itu mata lu kok kuning?” tanya Reza yang terdengar oleh telingaku.
“Gapapa, kecapean aja kali” jawab Azzam
“Lu bukan habis makan pisang keju kemarin kan?” tanya Reza
“Makan sih, sedikit”
“Kok lu makan sih?”
“Namanya juga rezeki Za, masa ditolak sih. Yang ngasih itu Zahra lagi” Ucap Azzam
            Ucapan Azzam pun membuatku terkejut bukan main, apa maksudnya?
“Lu diem2 lu makan tuh pisang keju? Sampai segitunya, lu suka ya sama Zahra?” Reza benar-benar mengintrograsi Azzam.
“Ya Enggak lah, aneh-aneh aja lu nanya nya” jawab Azzam sedikit gugup
“Berarti Zahra bisa buat gua ya” ucap Reza
“Ya kalau di mau Za”
“Kalau mau gimana?”
“Ambil aja, urusannya sama gue apasih Za? Gua bapanya? Bukan kan.” Jawab Azzam sinis
“Iya sih ya”
“Udah Za, tuh Dosen lu udah masuk. Sonoh gih”
“Satu lagi Zam, dan Jawab yang Jujur. Lu nganggep Zahra itu apa? Sepertinya sinis terus lu sama dia?” Tanya Reza Serius
“Bukannya sinis sih Za, gua lebih ke cari aman. Karena cewek kayak dia itu tipe yang pembawa sial, biang masalah” ucap Azzam tanpa perasaan
            Aku syok mendengar kata-kata Azzam yang blak-blakan itu.
            Dengan penuh emosi dalam hati, aku yang sedari tadi hanya menguping dari balik dindingpun menghampiri mereka berdua.
“Bang Azzam, Reza” Ucapku
“Zahra” ucap Azzam dan Reza berbarengan.
“Sebenarnya tadi saya ingin minta maaf ke kamu Zam, sepertinya gajadi” ucapku sedikit menangis
“Zahra” Reza memanggilku
“Kau tau Zam, di dunia ini tidak ada yang namanya pembawa sial. Dan jika kamu menganggapku seperti itu. Maka aku sudah sudah salah menilaimu” Nada bicaraku sudah mulai meninggi.
“Kata-kata itu sudah benar-benar merubah pandangan saya terhadapmu” Lanjutku.
            Kemudian tanpa sadar tubuhku berjalan sendiri kedalam kelas, kepalaku langsung merunduk menangis diatas meja.
“Zahra” Teriak Azzam
“Zam, gua duluan ke kelas. Ini masalah lu, lu harus menyelesaikannya sendiri” ucap Reza
“Za, lu juga salah Za. Nanya macam-macam sih” ucap Azzam emosi.
            Azzam kemudian masuk kedalam kelas, namun Rifan langsung menahannya untuk menemuiku.
“Zam, ikut gua dulu” ucap Rifan
“Disini aja gapapa” jawab Azzam
“Temen-temen, kelas kosong pagi ini. Dimohon untuk pulang aja” ucap Rifan
“Kosong?” tanya teman-teman kelas.
“Iya, tadi saya baru dapat informasi bahwa kelas hari ini dikosongkan” jawab Rifan
            Setelah hampir kosong, yang tersisa hanya aku,Ema,Rifan,Dimas dan Azzam. Rifan mencoba menyelesaikan masalah ini.
“Kalian berdua kenapa sih? Kemarin kayaknya baik-baik aja” Tanya Rifan
“Gapapa Fan, dia nya aja yang perasa” Jawab Azzam sinis.
“Zam, apa gabisa bicara itu ditata dulu” ucap Dimas sedikit emosi
“Apaan lu, ikut-ikut juga. Mending lu pulang” Azzam sudah tidak bisa menahan emosinya
            Kemudian Dimas menyerang Azzam, namun saat Azzam ingin menyerang. Rifan disana untuk menahannya. Aura kelas menjadi berat sekali rasanya, mungkin karena aku. Azzam mungkin benar, aku adalah biang masalah.

            Azzam kemudian pulang bersama dengan Rifan, Mungkin sekarang yang bisa memahami Azzam adalah Rifan. Saat Ospek pun mereka lah yang dua orang yang paling solid.
“Zam, lu bilang tadi, Zahra itu perasa. Maksudnya gimana?” Tanya Rifan memulai pembicaraan
“Belakangan kan gua sama dia mulai dekat, nah itu sumber masalahnya” Jawab Azzam
“Terus?”
“Suci cemburu karenanya. Nah sebab itulah gua mulai sinis buat menghindari dia” lanjut Azzam
“Perkataan apa yang membuat Zahra menangis seperti tadi?” tanya Rifan
“Gua bilang dia pembawa sial” jawab Azzam pelan
“Gila lu Zam, bilang gitu dihadapan Zahra?”
“Enggak Fan, gua ngomong sama Reza. Ternyata dia dengar dari belakang” ucap Azzam menjelaskan keadaan
“Kok lu bisa-bisanya bilang kaya gitu, walaupun ke Reza?” tanya Rifan benar-benar penasaran
“Reza juga mantannya Suci, gua takut aja dia ngelapor ke Suci kalau Zahra sering bersama gua belakangan ini” jawab Azzam
“Terlebih, suci kemarin siang marah besar sama gua karena tau sosok Zahra” lanjutnya
“Lah, darimana dia tau Zam?”
“Ga tau, makanya gua curiga kalau Reza yang ngelaporin, tapi yaudah lah. Selagi suci masih bisa gua tenangin, semua aman. Tapi gua takut kalau itu terjadi untuk yang kedua kalinya” Jelas Azzam.
“Zam, ini masalah salah faham Zam. Gua bisa nolongin lu minta maaf ke Zahra, dia lagi ditaman. Sama Ema. Yuk Kesana” Ajak Rifan
“Yaudah lah, ayok” sahut Azzam.

            Sementara itu, di Alun-alun kota. Dimas dan Ema masih menenangkanku, tujuan ke Alun alun kota juga sebenarnya untuk menghiburku. Namun semua itu gagal.
“Ra, lu mau nonton gak. Mumpung didepan ada bioskop tuh” ucap Ema
“Yaudah Ema, lu belikan Aja buat kita bertiga dulu” sahut Dimas
“Oke Dim, jagain Zahra ya” ucap Ema

            Kemudian Ema meninggalkan kami berdua, dia pergi untuk membeli tiket nonton bioskop
“Udah Ra, kita nunggu disini ya” ucap Dimas
“Iya, Terimakasih Ya Dim” jawabku.

            Disaat hatiku sudah mulai tenang, dan suasana perasaan ini sudah mulai kondusif, aku menatap jelas dua bola mata yang menatapku, tatapan Dimas begitu dalam kepadaku. Jantungku berdegup tak karuan, namun deguban ini berbeda dengan perasaan jika aku menatap Azzam. Aku cenderung merasa takut menatap mata Dimas.

“PACARAN TEROOOS” Teriak Azzam dari belakang, teriakan itu membuatku takut.

            Namun, sepertinya teriakan itu bukanlah teriakan penuh emosi seperti sebelumnya. Melainkan teriakan candaan sapa khas yang sering dilontarkan oleh Azzam.

            Senyumannya membuatku malah ingin menghampirinya, pedahal bisa saja aku berbalik badan kemudian menjauh, tapi aku malah bertanya, selemah itukah badan dan jiwa diberikan Allah untukku? Tidak!!

Karena Allah akan selalu menjagaku. Aku akan terus berlari kedepan..Setiap doa heningku saat bersujud, aku percaya...di langit sana menggema dan didengar oleh Allah...ya rab segalanya, Rab penuntun takdirku. Insha Allah.

“Assalamualaikum” Salam Azzam
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat sore Zam” Jawabku terpaku menatap senyumnya.
            Azzam kemudian memberikan susu beruang kepadaku. Kemudian memberikan isyarat kepada Rifan untuk membawa Dimas, tujuannya jelas. Agar kami dapat berbicara empat mata saja.

“Zahra gua minta maaf atas kejadian tadi pagi” Buka Azzam
“Saya akan sangat mudah memaafkan orang Zam, marah saya tidak pernah sampai ke hati. Tapi kata-katamu tadi pagi itu benar-benar merasuk kedalam hati saya” Jawabku
“Tolong tinggalkan saya sendiri” usirku halus
“Buat yang ini juga gua minta maaf, gua gabisa ninggalin elu. Pertama, ini sudah sore. dan yang kedua masalah kita ini gabisa diselesaikan dalam diam” ucap Azzam
“Kenapa seorang Azzam bisa mengatakan hal yang sekejam itu?” tanyaku dengan air mata tangis yang keluar.

            Terlihat dari kejauhan, Ema dan Dimas ingin menghampiriku. Namun ditahan oleh Rifan, karena masalah ini adalah masalah antara aku dan Azzam. Bukan masalah mereka.

“Ema, Dimas. Biarkan saja mereka, bisa kalian lihat, tatapan mereka. Azzam jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam, sudah jatuh cinta kepada Zahra. Begitu juga Zahra, hatinya sudah menjadi milik Azzam. Dari tatapan itu, kita tau mereka saling mencintai tanpa harus diucapkan kepada kita” ucap Rifan kepada Ema dan Dimas


            Azzam dengen sedikit menunduk, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Gua juga gamau berkata kaya gitu, semua ada alasannya. Alasan pertama karena Reza sudah sangat kenal denganmu dan gua takut kalau silaturahmi antara lu dan Reza renggang karena gua. Dan yang kedua, ini lebih penting karena….”
“Karena Suci?” ucapku memotong penjelasan Azzam

Azzam hanya terdiam mendengar ucapanku tadi. Namun dia mencoba tetap tenang dan tidak emosi

“Abang ga perlu bingung begitu, karena kebodohan yang abang buat. Saya mengetahui siapa sosok suci itu” lanjutnku
“Iya, seperti itulah. Maaf ya” Ucap Azzam

            Mendengar ucapan maaf dari Azzam membuatku bertekad untuk mencintainya dalam diam. Aku teringat sebuah pesan yang sering kali membuat bulu kudukku merinding, hatiku bergetar dan rasanya tak pernah ingin hal itu terjadi padaku. Yaitu pesan yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa “ketika kita terlalu berharap pada seseorang, Allah SWT akan timpakan pada kita pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah SWT sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain dia. Maka Allah SWT akan menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadanya

            Aku sudah khilaf, dan Allah SWT kembali membukakan mataku. Hari ini aku belajar, bahwa satu-satunya yang bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri. Kita tidak bisa berbuat baik pada orang dan berpikir orang tersebut akan melakukan hal yang sama pada kita. Kita hanya bisa berharap pada Allah SWT.

            Astagfirullahal Adzim, maafkan hambamu ini ya Allah. Karena aku telah khilaf dan tanpa sadar telah berharap kepada makhlukmu itu, berharap untuk bisa terus melihatnya, berharap untuk selalu berada disisinya. Ini salahku, sepenuhnya salahku, aku telah telah melupakanMu karena dirinya. Dan kini akupun harus menanggung segala akibatnya, aku tau ini adalah ujian darimu ya Allah.
            Kau beri aku dua pilihan, yaitu mencintainya dalam diam, dalam sabar hingga waktunya tiba. Atau mengikuti nafsuku sendiri kepadanya. Dan inilah jawabanku : “Demi Engkau, Zat yang membolak-balikkan hati manusia. Demi Abi ku dan Demi Almarhumah Umi. Aku akan sabar dengan mencintainya dalam diam, karena aku yakin setiap liku sungai pasti ada muaranya dan setiap ujian pun akan ada solusinya serta kebahagiaan setelahnya. Bismillahirahmanirrahim.

“Iya bang, tidak apa-apa. Ia Faham” ucapku kepadanya
“Ia?” tanya Azzam
“Iya, kata “Saya” terlalu kasar untuk orang yang baik seperti abang” ucapku dengan senyum patah hati.
“Yasudah Bang, Ia permisi pulang dulu” Lanjutku berpamitan pada Azzam
            Saat aku berbalik badan dan berjalan, tiba-tiba Azzam berteriak keras sekali.

“Finna Abida Azzahra” teriak Azzam.
            Teriakan itu sontak membuatku berbalik, namun hanya terdiam dan tak mampu melangkah.

“Maaf jika aku melukai hati dan mematahkan harapanmu” ucap Azzam
“Tapi Abang mohon kepada Zahra. Abang berharap, kita bisa menahan perasaan kita masing-masing. Sampai nanti saatnya tiba” Lanjutnya
            Kemudian Azzam menghampiriku, dan membukakan susu beruang yang dia berikan tadi. Kemudian menyerahkannya lagi kepadaku.

“Insya Allah, Takdir Allah akan mempersatukan kita. Apapun yang terjadi” Ucap Azzam
“Amiiin Ya Rabbal Alamin” Ucapku tersenyum
“Abang adalah yang kedua setelah Abi dan mungkin akan menjadi yang terakhir untuk ia Bang, Abang yang paling pantas untuk itu” lanjutku
“Alhamdulillah” Ucap Syukur Azzam.

            Kawan, Di dunia ini jika kita punya masalah seberat apapun, kita memang wajib berserah kepada Allah, namun, kita juga bisa meminta bantuan sahabat terdekat.
Bukan hanya hablumminallah yang harus kita jaga, tapi juga hablumminannas atau hubungan sesama manusia.  Karena pada dasarnya manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain.
Artinya kita tidak akan bisa hidup normal jika tidak melakukan hubungan dengan orang lain. Dan ketika kita menemukan teman atau sahabat karib, kita patut bersyukur karena itu adalah salah 1 kenikmatan yang Allah berikan pada kita.
Innallaha Ma’ana.. sesungguhnya Allah bersama kita.
FINNA ABIDA AZZAHRA
OKTOBER 2017

0 komentar:

Posting Komentar