Jumat, 01 Maret 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL





Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.

Kisah ini terjadi di awal bulan suci Ramadhan 1439 Hijriah. Tepatnya tanggal 29 Mei 2018 lalu, aku terbangun oleh Alarmku sendiri. Namun rasa kantuk malam itu mengalahkan suara alarmku rasanya, Abi terbangun dan mematikan suara berisik itu.
“Jangan lupa bangunkan Azzam” bisik abi kepadaku.
Tiba-tiba rasa kantuk tadi hilang begitu saja ketika aku mendengar nama manusia istimewa itu, tanpa aba-aba sedikitpun aku menelpon Azzam.
Kriiiiing kriing, handphone Azzam berbunyi (Memang ringtonenya seperti itu).
Ayah melihat handphone Azzam yang berbunyi, sambil tersenyum melihat namaku memanggil. Kemudian beliau melempar handuk basah bekas mandi itu ke wajah Azzam.
“Kenapa yah?” tanya Azzam
“Berhutang sama siapa kamu zam? Sampai ditelpon depkolektor?” ucap ayah iseng
Azzam bangun dengan perasaan kesal kemudian mengangkat telepon ku,
“Ibu mentri, terimakasih sudah membangunkan salah satu rakyatmu” ucap Azzam.
“Assalamualaikum Uda Azzam. Ayo sahur, ajak ayah sekalian” jawabku sambil tertawa
“Waalaikum mussalam tuan putri. Siap tuan putri, kamu juga ajak Abi ya. Aku ingin melihat kalau TNI Beradu Tatap tanpa kedip sama pak Polisi itu bisa menang gak ya?” Tanya nya ngelantur
Terkadang bahasan Azzam yang tidak sesuai poros itulah yang membuat mood ku membaik dan tak pernah membuat moodku semakin memburuk. Tapi kalau kalian bertanya, apakah Azzam pernah membuatku kesal. Jawabannya pernah kawan, walau hanya sekali. Namun itu benar-benar ceroboh yang luar biasa.
Aku ingat sekali kejadian waktu itu, tepatnya saat liburan semester ganjil awal tahun lalu. Azzam pulang ke kampungnya. Namun pada saat dibandara, handphone nya tertinggal diruang tunggu keberangkatan. Saat dia sudah kembali ke ruang tunggu, handphonenya sudah tidak ada. Saat mengetahui hal itu, aku sangat kesal. Karena handphone itu sebenarnya adalah handphone milikku yang dia tukar-tambah dengan handphonenya. Karena aku sangat kesal dengannya, aku mengembalikan handphone miliknya sambil menggerutu “Abang itu orangnya kalau gak ngomong gawur, yaa ngilangin barang” ucapku ketus kepadanya.

Oke kembali ke cerita, setelah Azzam menutup telepon dariku. Aku bersiap untuk makan sahur, makan sahur kali ini berbeda. Karena abi dan ayah ingin bertemu, jadinya kami makan di sebuah restoran 24 jam yang lumayan jauh dari kos.

Aku menuju lokasi menggunakan transportasi online, sekitar limabelas hingga duapuluh menit perjalan akhirnya kami sampai di resto tersebut. Dari kejauhan aku melihat sosok Azzam dengan penampilan memakai kupluk penutup kepala.
“Penyewaan villa mas?” candaku.
“Assalamualaikum Bi” sapa Azzam kepada abi. Azzam mengabaikanku ternyata, jahat sekali memang.
“Waalaikumsalam Zam, mana Ayahmu?” tanya Abi.
“Sudah didalam bi, ayo masuk bi” Ajak Azzam

Ternyata resto ini cukup ramai walaupun dini hari, mungkin karena banyak orang yang sahur.
“Assalamualaikum Kapten Adam” Ucap Abi
“Waalaikumussalam pak Rahmat” sahut Ayah
“Masya Allah, kamu ga ada perubahan ya Adam. Awet muda rupanya”
“Alhamdulillah pak Rahmat”
Aku dan Azzam tampak bingung dengan kedua laki-laki tua ini. bagaimana bisa kedua pria itu saling kenal.
“Permisi bapak-bapak yang yang terhormat, disini kaum muda kurang faham dengan situasi ini” ucap Azzam memotong pembicaraan ayah dan abi.
“Wah, ini ayahmu Zam. Sudah menyelamatkan Abi waktu dulu disandera oleh perampok liar jalanan. Dan Kapten Adam ini yang membebaskan Abi” Jelas Abi
“Dan ketika ayah dulu di sandera juga oleh pasukan GAM, Pak Rahmat ini orang pertama yang ikut dalam misi penyelamatan ayah” Ayah pun menceritakan kisah heroik Abi.

            Aku baru tau jika Abi dulu pernah hampir mati dan disandera, begitupula dengan Ayah. Aku pun akhirnya percaya jika kepergian Umi dan pertemuanku dengan Dokter Faridha atau orang yang sekarang aku panggil IBU itu bukanlah sebuah kebetulan. Namun memang sudah diskenariokan terlebih dahulu oleh Allah. Dan hari ini, aku benar-benar telah mempercayai bahwa Allah maha benar, ketentuanNya pasti itu yang terbaik untuk kita.