Kamis, 11 Juli 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL 2



MENCINTAIMU DALAM DIAM


Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.


            Ketika aku sudah mulai beradaptasi dengan tempat ini, banyak sesuatu yang terjadi di kota yang berjuluk “Kota Satria”. Setiap malamnya aku selalu berdoa agar dilindungi setiap harinya oleh Allah swt.
            Aku ingat satu momen ketika aku berniat ke tempatnya membawakan makanan sebagai rasa terimakasihku kepadanya karena kemarin dia sudah membantuku. Jarak rumahku dengan tempatnya tinggal lumayan jauh, sekitar 4 Kilometer.

            Sesampainya disana, terlihat pintu rumah itu tidak tertutup.

“Assalamualaikum” Salamku kepada orang yang ada didalam rumah
“Waalaikumsalam Zahra, ada apa nih Zahra?” Sahut dan tanya Reza kepadaku
“Bang Azzamnya ada Za?” tanyaku
“Azzam aja yang dipanggil abang” gumamnya kecil, namun aku mendengarnya.
“Kenapa Za?” tanyaku
“Enggak, Azzamnya ada didalem. Masuk aja” Jawab Reza

            Aku duduk diruang tamu, sedangkan Reza masuk kedalam untuk memanggil Azzam.

“Zam, ada Zahra tuh” ucap Reza
“Zahra? Ngapain tuh anak kesini?” tanya Azzam
“Ya harusnya gua yang nanya Zam”
“Yaudah, samperin lah. gimana sih” ucap Azzam dengan nada sedikit meninggi.

            Kemudian Azzam datang menemui dengan membawa sebotol air minum

“Maaf Cuma air mineral, karena hanya ini yang aku punya” Ucap pembuka Azzam.
“Gapapa Bang Azzam, Tujuan saya kesini juga bukan mau minta air kok” Ucapku
Sambil tersenyum Azzam berkata “Yasudah, ambil saja”
“apa tujuanmu kesini?” tanya Azzam sinis
“Ini Bang, saya mebawakan makanan buat kamu. Karena kemarin sudah bantuin saya pada saat kuis” ucapku sambil menyerahkan beberapa makanan
“Makasih ya sebelumnya, maaf merepotkanmu” ucap Azzam
“Sama-sama bang Azzam. Saya pamit pulang dulu bang” ucapku sekalian pamit.
“Iya Zahra. Silahkan”

            Azzam mengantarku sampai depan gang, sembari menunggu transportasi online.

“Zahra, hati-hati ya” ucap Azzam
“Insya Allah bang” Jawabku tersipu
“Itu Ojeknya sudah datang, kabarin kalau sudah sampai”
“Iya, pulang dulu ya” ucapku.
            Mungkin itu kata-kata yang biasa, namun sepertinya kata-kata yang dilontarkan oleh Azzam terlalu berbekas. Apa arti dari perasaan ini? Entahlah, semoga ini menjadi pertanda baik untukku kedepannya.

“Zam, enak tuh kayaknya” ucap Reza
“Makan aja, abisin. Gapapa kok” Jawab Azzam
“Loh? Kenpapa?” tanya Reza
“Gua bingung aja sama tuh anak, udah tau gua gabisa makan keju. Dikasih pisang keju” Ucap Azzam sedikit emos.
“Yaudah, buat gua ya”
“Ambillah, Ambil abisin lah, mau muntah gua liat keju”
            Keesokan harinya, saat dikampus aku melihat Azzam dan Rezza sedang berjalan berdua memasuki lobi.
“Assalamualaikum Bang Azzam, Reza” Sapaku
“Waalaikumussalam Zahra, adem banget deh. Dipagi-pagi disalamin sama calon istri sholehah” ucap Reza.
“Kumsalam” Jawab Azzam singkat.
“Bang Azzam, jawab salamnya kok gitu?” ucapku kelepasan.
“Yaa terserah gua dong, mau jawab gimana juga”ucap Azzam kesal
“Abang Azzam lagi kenapa? Kok gak biasanya?” tanyaku
“Pikir aja sendiri” Jawabnya, kemudian Azzam pergi meninggalkan kami berdua.
“Reza, Bang Azza, kenapa?” tanyaku pada Reza
“Mungkin kesel karena kemaren” jawabnya
“Kesel??” aku semakin bingung apa yang terjadi
“Gini, gua tanya deh ke elu Ra. Kemaren lu ngasih apa ke Azzam?” tanya Reza
“Pisang keju” jawabku

            Seketika aku teringat sebuah kejadian dirumah Rifan malam itu.
“Astagfirullahal adzim” Lanjutku
“Lu tau kan Ra, Azzam sama keju itu punya hubungan yang kurang baik?” ucap Reza
“Saya lupa Za, bagaimana ini?” tiba-tiba air mata bersalah ini menetes begitu saja
“Udah udah, biar gua aja yang urus tuh Anak” Reza kemudian pergi menyusul Azzam.
            Aku merasa malu sekali karena kejadian itu, aku bingung harus melakukan apa. Dengan perasaan yang tak karuan ini, aku mencoba masuk kedalam kelas.

“Zam, itu mata lu kok kuning?” tanya Reza yang terdengar oleh telingaku.
“Gapapa, kecapean aja kali” jawab Azzam
“Lu bukan habis makan pisang keju kemarin kan?” tanya Reza
“Makan sih, sedikit”
“Kok lu makan sih?”
“Namanya juga rezeki Za, masa ditolak sih. Yang ngasih itu Zahra lagi” Ucap Azzam
            Ucapan Azzam pun membuatku terkejut bukan main, apa maksudnya?
“Lu diem2 lu makan tuh pisang keju? Sampai segitunya, lu suka ya sama Zahra?” Reza benar-benar mengintrograsi Azzam.
“Ya Enggak lah, aneh-aneh aja lu nanya nya” jawab Azzam sedikit gugup
“Berarti Zahra bisa buat gua ya” ucap Reza
“Ya kalau di mau Za”
“Kalau mau gimana?”
“Ambil aja, urusannya sama gue apasih Za? Gua bapanya? Bukan kan.” Jawab Azzam sinis
“Iya sih ya”
“Udah Za, tuh Dosen lu udah masuk. Sonoh gih”
“Satu lagi Zam, dan Jawab yang Jujur. Lu nganggep Zahra itu apa? Sepertinya sinis terus lu sama dia?” Tanya Reza Serius
“Bukannya sinis sih Za, gua lebih ke cari aman. Karena cewek kayak dia itu tipe yang pembawa sial, biang masalah” ucap Azzam tanpa perasaan
            Aku syok mendengar kata-kata Azzam yang blak-blakan itu.
            Dengan penuh emosi dalam hati, aku yang sedari tadi hanya menguping dari balik dindingpun menghampiri mereka berdua.
“Bang Azzam, Reza” Ucapku
“Zahra” ucap Azzam dan Reza berbarengan.
“Sebenarnya tadi saya ingin minta maaf ke kamu Zam, sepertinya gajadi” ucapku sedikit menangis
“Zahra” Reza memanggilku
“Kau tau Zam, di dunia ini tidak ada yang namanya pembawa sial. Dan jika kamu menganggapku seperti itu. Maka aku sudah sudah salah menilaimu” Nada bicaraku sudah mulai meninggi.
“Kata-kata itu sudah benar-benar merubah pandangan saya terhadapmu” Lanjutku.
            Kemudian tanpa sadar tubuhku berjalan sendiri kedalam kelas, kepalaku langsung merunduk menangis diatas meja.
“Zahra” Teriak Azzam
“Zam, gua duluan ke kelas. Ini masalah lu, lu harus menyelesaikannya sendiri” ucap Reza
“Za, lu juga salah Za. Nanya macam-macam sih” ucap Azzam emosi.
            Azzam kemudian masuk kedalam kelas, namun Rifan langsung menahannya untuk menemuiku.
“Zam, ikut gua dulu” ucap Rifan
“Disini aja gapapa” jawab Azzam
“Temen-temen, kelas kosong pagi ini. Dimohon untuk pulang aja” ucap Rifan
“Kosong?” tanya teman-teman kelas.
“Iya, tadi saya baru dapat informasi bahwa kelas hari ini dikosongkan” jawab Rifan
            Setelah hampir kosong, yang tersisa hanya aku,Ema,Rifan,Dimas dan Azzam. Rifan mencoba menyelesaikan masalah ini.
“Kalian berdua kenapa sih? Kemarin kayaknya baik-baik aja” Tanya Rifan
“Gapapa Fan, dia nya aja yang perasa” Jawab Azzam sinis.
“Zam, apa gabisa bicara itu ditata dulu” ucap Dimas sedikit emosi
“Apaan lu, ikut-ikut juga. Mending lu pulang” Azzam sudah tidak bisa menahan emosinya
            Kemudian Dimas menyerang Azzam, namun saat Azzam ingin menyerang. Rifan disana untuk menahannya. Aura kelas menjadi berat sekali rasanya, mungkin karena aku. Azzam mungkin benar, aku adalah biang masalah.

            Azzam kemudian pulang bersama dengan Rifan, Mungkin sekarang yang bisa memahami Azzam adalah Rifan. Saat Ospek pun mereka lah yang dua orang yang paling solid.
“Zam, lu bilang tadi, Zahra itu perasa. Maksudnya gimana?” Tanya Rifan memulai pembicaraan
“Belakangan kan gua sama dia mulai dekat, nah itu sumber masalahnya” Jawab Azzam
“Terus?”
“Suci cemburu karenanya. Nah sebab itulah gua mulai sinis buat menghindari dia” lanjut Azzam
“Perkataan apa yang membuat Zahra menangis seperti tadi?” tanya Rifan
“Gua bilang dia pembawa sial” jawab Azzam pelan
“Gila lu Zam, bilang gitu dihadapan Zahra?”
“Enggak Fan, gua ngomong sama Reza. Ternyata dia dengar dari belakang” ucap Azzam menjelaskan keadaan
“Kok lu bisa-bisanya bilang kaya gitu, walaupun ke Reza?” tanya Rifan benar-benar penasaran
“Reza juga mantannya Suci, gua takut aja dia ngelapor ke Suci kalau Zahra sering bersama gua belakangan ini” jawab Azzam
“Terlebih, suci kemarin siang marah besar sama gua karena tau sosok Zahra” lanjutnya
“Lah, darimana dia tau Zam?”
“Ga tau, makanya gua curiga kalau Reza yang ngelaporin, tapi yaudah lah. Selagi suci masih bisa gua tenangin, semua aman. Tapi gua takut kalau itu terjadi untuk yang kedua kalinya” Jelas Azzam.
“Zam, ini masalah salah faham Zam. Gua bisa nolongin lu minta maaf ke Zahra, dia lagi ditaman. Sama Ema. Yuk Kesana” Ajak Rifan
“Yaudah lah, ayok” sahut Azzam.

            Sementara itu, di Alun-alun kota. Dimas dan Ema masih menenangkanku, tujuan ke Alun alun kota juga sebenarnya untuk menghiburku. Namun semua itu gagal.
“Ra, lu mau nonton gak. Mumpung didepan ada bioskop tuh” ucap Ema
“Yaudah Ema, lu belikan Aja buat kita bertiga dulu” sahut Dimas
“Oke Dim, jagain Zahra ya” ucap Ema

            Kemudian Ema meninggalkan kami berdua, dia pergi untuk membeli tiket nonton bioskop
“Udah Ra, kita nunggu disini ya” ucap Dimas
“Iya, Terimakasih Ya Dim” jawabku.

            Disaat hatiku sudah mulai tenang, dan suasana perasaan ini sudah mulai kondusif, aku menatap jelas dua bola mata yang menatapku, tatapan Dimas begitu dalam kepadaku. Jantungku berdegup tak karuan, namun deguban ini berbeda dengan perasaan jika aku menatap Azzam. Aku cenderung merasa takut menatap mata Dimas.

“PACARAN TEROOOS” Teriak Azzam dari belakang, teriakan itu membuatku takut.

            Namun, sepertinya teriakan itu bukanlah teriakan penuh emosi seperti sebelumnya. Melainkan teriakan candaan sapa khas yang sering dilontarkan oleh Azzam.

            Senyumannya membuatku malah ingin menghampirinya, pedahal bisa saja aku berbalik badan kemudian menjauh, tapi aku malah bertanya, selemah itukah badan dan jiwa diberikan Allah untukku? Tidak!!

Karena Allah akan selalu menjagaku. Aku akan terus berlari kedepan..Setiap doa heningku saat bersujud, aku percaya...di langit sana menggema dan didengar oleh Allah...ya rab segalanya, Rab penuntun takdirku. Insha Allah.

“Assalamualaikum” Salam Azzam
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat sore Zam” Jawabku terpaku menatap senyumnya.
            Azzam kemudian memberikan susu beruang kepadaku. Kemudian memberikan isyarat kepada Rifan untuk membawa Dimas, tujuannya jelas. Agar kami dapat berbicara empat mata saja.

“Zahra gua minta maaf atas kejadian tadi pagi” Buka Azzam
“Saya akan sangat mudah memaafkan orang Zam, marah saya tidak pernah sampai ke hati. Tapi kata-katamu tadi pagi itu benar-benar merasuk kedalam hati saya” Jawabku
“Tolong tinggalkan saya sendiri” usirku halus
“Buat yang ini juga gua minta maaf, gua gabisa ninggalin elu. Pertama, ini sudah sore. dan yang kedua masalah kita ini gabisa diselesaikan dalam diam” ucap Azzam
“Kenapa seorang Azzam bisa mengatakan hal yang sekejam itu?” tanyaku dengan air mata tangis yang keluar.

            Terlihat dari kejauhan, Ema dan Dimas ingin menghampiriku. Namun ditahan oleh Rifan, karena masalah ini adalah masalah antara aku dan Azzam. Bukan masalah mereka.

“Ema, Dimas. Biarkan saja mereka, bisa kalian lihat, tatapan mereka. Azzam jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam, sudah jatuh cinta kepada Zahra. Begitu juga Zahra, hatinya sudah menjadi milik Azzam. Dari tatapan itu, kita tau mereka saling mencintai tanpa harus diucapkan kepada kita” ucap Rifan kepada Ema dan Dimas


            Azzam dengen sedikit menunduk, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Gua juga gamau berkata kaya gitu, semua ada alasannya. Alasan pertama karena Reza sudah sangat kenal denganmu dan gua takut kalau silaturahmi antara lu dan Reza renggang karena gua. Dan yang kedua, ini lebih penting karena….”
“Karena Suci?” ucapku memotong penjelasan Azzam

Azzam hanya terdiam mendengar ucapanku tadi. Namun dia mencoba tetap tenang dan tidak emosi

“Abang ga perlu bingung begitu, karena kebodohan yang abang buat. Saya mengetahui siapa sosok suci itu” lanjutnku
“Iya, seperti itulah. Maaf ya” Ucap Azzam

            Mendengar ucapan maaf dari Azzam membuatku bertekad untuk mencintainya dalam diam. Aku teringat sebuah pesan yang sering kali membuat bulu kudukku merinding, hatiku bergetar dan rasanya tak pernah ingin hal itu terjadi padaku. Yaitu pesan yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa “ketika kita terlalu berharap pada seseorang, Allah SWT akan timpakan pada kita pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah SWT sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain dia. Maka Allah SWT akan menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadanya

            Aku sudah khilaf, dan Allah SWT kembali membukakan mataku. Hari ini aku belajar, bahwa satu-satunya yang bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri. Kita tidak bisa berbuat baik pada orang dan berpikir orang tersebut akan melakukan hal yang sama pada kita. Kita hanya bisa berharap pada Allah SWT.

            Astagfirullahal Adzim, maafkan hambamu ini ya Allah. Karena aku telah khilaf dan tanpa sadar telah berharap kepada makhlukmu itu, berharap untuk bisa terus melihatnya, berharap untuk selalu berada disisinya. Ini salahku, sepenuhnya salahku, aku telah telah melupakanMu karena dirinya. Dan kini akupun harus menanggung segala akibatnya, aku tau ini adalah ujian darimu ya Allah.
            Kau beri aku dua pilihan, yaitu mencintainya dalam diam, dalam sabar hingga waktunya tiba. Atau mengikuti nafsuku sendiri kepadanya. Dan inilah jawabanku : “Demi Engkau, Zat yang membolak-balikkan hati manusia. Demi Abi ku dan Demi Almarhumah Umi. Aku akan sabar dengan mencintainya dalam diam, karena aku yakin setiap liku sungai pasti ada muaranya dan setiap ujian pun akan ada solusinya serta kebahagiaan setelahnya. Bismillahirahmanirrahim.

“Iya bang, tidak apa-apa. Ia Faham” ucapku kepadanya
“Ia?” tanya Azzam
“Iya, kata “Saya” terlalu kasar untuk orang yang baik seperti abang” ucapku dengan senyum patah hati.
“Yasudah Bang, Ia permisi pulang dulu” Lanjutku berpamitan pada Azzam
            Saat aku berbalik badan dan berjalan, tiba-tiba Azzam berteriak keras sekali.

“Finna Abida Azzahra” teriak Azzam.
            Teriakan itu sontak membuatku berbalik, namun hanya terdiam dan tak mampu melangkah.

“Maaf jika aku melukai hati dan mematahkan harapanmu” ucap Azzam
“Tapi Abang mohon kepada Zahra. Abang berharap, kita bisa menahan perasaan kita masing-masing. Sampai nanti saatnya tiba” Lanjutnya
            Kemudian Azzam menghampiriku, dan membukakan susu beruang yang dia berikan tadi. Kemudian menyerahkannya lagi kepadaku.

“Insya Allah, Takdir Allah akan mempersatukan kita. Apapun yang terjadi” Ucap Azzam
“Amiiin Ya Rabbal Alamin” Ucapku tersenyum
“Abang adalah yang kedua setelah Abi dan mungkin akan menjadi yang terakhir untuk ia Bang, Abang yang paling pantas untuk itu” lanjutku
“Alhamdulillah” Ucap Syukur Azzam.

            Kawan, Di dunia ini jika kita punya masalah seberat apapun, kita memang wajib berserah kepada Allah, namun, kita juga bisa meminta bantuan sahabat terdekat.
Bukan hanya hablumminallah yang harus kita jaga, tapi juga hablumminannas atau hubungan sesama manusia.  Karena pada dasarnya manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain.
Artinya kita tidak akan bisa hidup normal jika tidak melakukan hubungan dengan orang lain. Dan ketika kita menemukan teman atau sahabat karib, kita patut bersyukur karena itu adalah salah 1 kenikmatan yang Allah berikan pada kita.
Innallaha Ma’ana.. sesungguhnya Allah bersama kita.
FINNA ABIDA AZZAHRA
OKTOBER 2017

Rabu, 27 Maret 2019

BERSAMAMU MENUJU HALAL


Created By : Amanat Dirgantara

BANJARBARU,
            10 Agustus 2015 mataku terbuka mengawali hariku dipagi yang cerah ini. Semua seolah taka da yang spesial, hanya rutinitas yang selalu aku lakukan setiap paginya. Mandi kemudian aku makan setelah dirasa perut kenyang aku bersiap menuju ke tempat yang paling aku benci namun harus aku datangi karena disana adalah sumber pengetahuan terluas bagi manusia seusiaku saat itu. Tempat itu dinamakan SEKOLAH, tempat dimana aku berkumpul dengan berbagai macam orang-orang. Suku, budaya dan Bahasa.

            Hal-hal membosankan pagi ini sirna begitu saja ketika aku melihat engkau dari kejauhan. Hal terindah yang tuhan ciptakan, bagaimana bisa dirimu berada dihadapanku saat ini? engkau bagaikan malaikat yang lewat kemudian pergi begitu saja. “Hei, kembalilah. Aku ingin menatap wajah indah itu sekali lagi” teriak batinku berharap engkau mendengarnya.
           
            Tubuhku bergetar ketika kau sudah mulai menjauh, kepalaku mulai tak karuan tengok menengok. Jantung ini bagaikan mesin yang terus dipacu, perasaan ini tak dapat kudustai. Aku mencintaimu saat pertama aku melihat wajah cantic nan rupawan itu. “Bisakah aku mengetahui kehidupanmu?” tanya hatiku yang tak pernah usai.

            Kau, kenapa tuhan bisa menciptakanmu begitu indahnya. Bagaimana bisa malaikat sepertimu turun kebumi? Dan apa tujuanmu?. Sebuah tanya terus menerus timbul tanpa adanya jeda untuk istirahat. Pagi ini begitu sulit untuk deskripsikan dalam kata. Engkau adalah duniaku sejak pagi ini. aku ingin tinggal disana, aku ingin mengisi tempat-tempat yang ada disana dan aku tidak mengizinkan siapapun tinggal di tempat yang indahnya bahkan mengalahkan Grand Canyon milik Amerika Serikat. Akan ku ajukan kau ke PBB agar menjadi satu-satunya keajaiban dibumi ini yang harus dilestarikan.



17 Agustus, Bukan hanya hari kemerdekaan republik ini. Namun ada hal yang lebih membahagiaan di hari kemerdekaan ini, Hari itu aku kembali bertemu denganmu wahai tuan putri. Panas dingin tubuh ini saat aku menatapmu, sama seperti pertama bertemu saat itu. Hei, bisakah kau menghilangkan semua rasa tak karuan ini? ataukah kau yang membuatku menjadi begini? Wahai malaikatku, bolehkah aku tau namamu?

            Sekuat tenaga aku datang menghampirimu didepan ruang UKS, apakah kau tau perjuanganku itu? Bagaimana caraku memulai pembicaraan ini nyonya? Apakah kau tidak merasakan gelagatku ini? Parasmu benar-benar membuat mulutku terkunci dan tak mampu membuka.

            Siapapun, aku mohon adakah yang bisa membantuku saat ini? Hatiku benar-benar tak karuan dibuatnya. Jantung ini berdegub sejadi-jadinya ketika dihadapkan dengan ciptaan terindah dariNya.

            Aku masih belum percaya pada kenyataan ini, Aku percaya pertemuan kita ini bukanlah sebuah kebetulan. Aku tau tuhan memiliki skenario yang luar biasa indahnya, hingga akupun harus bersabar menunggu kelanjutan rencanaNya. Kau harus tau bahwa dari sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah mencintaimu~

            Aku benar-benar seperti berada diatas puing-puing kaca, didalam otakku kau berada diujung jalan yang sangat-sangat rapuh ini. yang aku tanyakan, bagaimana caranya aku menujumu? Apakah aku harus berjalan diatas beling-beling itu? Atau kau yang terbang dengan sayap malaikatmu itu?

            Aku masih penasaran denganmu wahai tuan putri, “bisakah aku mengetahui namamu? Dan apakah kau bersedia memberitahukan namamu itu? Apakah kau juga penasaran denganku? Apa kau juga ingin tau namaku?” Batinku benar-benar sedang bergumam ingin tau. Tuan putri yang jelita, kau telah benar-benar membuatku harus terus menerus tergerus. Kapan perasaan aneh ini berakhir?

            24 Agustus, untuk ketiga kalinya kita bertemu. Dan kita dipertemukan tuhan lagi. Kali ini kita akan lebih sering bersua karena kita mulai ikut Ekskul yang sama. Apakah ini mimpi tuhan? Atau kau memang sengaja menakdirkan ini semua? Engkau memang Maha Pengasih, tuhan semesta alam.

            Akhirnya aku mengetahui namamu, namamu pun sangat indah sekali. Sebuah keindahan hidup yang harus aku syukuri mulai hari ini, izinkanlah aku memimpinmu diorganisasi ini sebelum aku memimpin rumah tangga bersamamu wahai sang pujaan hatiku

            Sebenarnya pada diri manusia, kita telah diberikan yang Namanya akal untuk tetap bisa bertahan dikehidupan nyata ini. Namun, setelah aku melihat wajah yang indah itu. Akalku tak lagi bisa aku gunakan dengan bijak, setiap malam yang terbayang hanyalah dirimu wahai tuan putri.

            Ada pepatah yang mengatakan “Jatuh cintalah seperlunya, jangan kau berikan semuanya”. Kata-kata itu tiba-tiba tidak bisa aku baca, mengapa semua ini terjadi? Apakah cinta memang membuatku menjadi orang yang buta huruf? Entahlah.
           
Diufuk barat terlihat mentari menyembunyikan dirinya. Dibawah langit jingga ini jiwaku menyerangai, bertanya-tanya Apa arti hidup ini? untuk apa aku hidup? Dan kepada siapa hidup ini aku berikan? . aku merenung dan meutup mataku, kau hadir didalam benakku. Menjawab semua pertanyaanku.

Ragamu adalah milikmu, setiap air mata karena luka serta keringat bercucuran itu adalah hasil usahamu. Hidup untuk sebuah harap yang pernah kau damba, kau lupakan dan kemudian kau sesalkan. Untuk itulah alasan hadirnya udara yang kau hirup. Kerahkan seluruhnya untuk dirimu sendiri, demi kebaikanmu. Dan demi diriku yang selalu berharap kedatanganmu pada dekapku.

Bayangmu kemudian hilang saat mata ini terbuka. Kini yang terlihat hanyalah sisa-sisa cahaya sinar surya yang sudah menipis, terimakasih kau memainkan peran dengan baik didalam benakku. Kini aku sudah memutuskan untuk mengikatmu wahai bidadariku, bersamamu aku semakin mantap untuk menantang masa yang akan datang. aku berjanji akan membimbingmu menuju surgaNya, bersamamu wahai sang pujaan hati.






Jumat, 01 Maret 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL





Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.

Kisah ini terjadi di awal bulan suci Ramadhan 1439 Hijriah. Tepatnya tanggal 29 Mei 2018 lalu, aku terbangun oleh Alarmku sendiri. Namun rasa kantuk malam itu mengalahkan suara alarmku rasanya, Abi terbangun dan mematikan suara berisik itu.
“Jangan lupa bangunkan Azzam” bisik abi kepadaku.
Tiba-tiba rasa kantuk tadi hilang begitu saja ketika aku mendengar nama manusia istimewa itu, tanpa aba-aba sedikitpun aku menelpon Azzam.
Kriiiiing kriing, handphone Azzam berbunyi (Memang ringtonenya seperti itu).
Ayah melihat handphone Azzam yang berbunyi, sambil tersenyum melihat namaku memanggil. Kemudian beliau melempar handuk basah bekas mandi itu ke wajah Azzam.
“Kenapa yah?” tanya Azzam
“Berhutang sama siapa kamu zam? Sampai ditelpon depkolektor?” ucap ayah iseng
Azzam bangun dengan perasaan kesal kemudian mengangkat telepon ku,
“Ibu mentri, terimakasih sudah membangunkan salah satu rakyatmu” ucap Azzam.
“Assalamualaikum Uda Azzam. Ayo sahur, ajak ayah sekalian” jawabku sambil tertawa
“Waalaikum mussalam tuan putri. Siap tuan putri, kamu juga ajak Abi ya. Aku ingin melihat kalau TNI Beradu Tatap tanpa kedip sama pak Polisi itu bisa menang gak ya?” Tanya nya ngelantur
Terkadang bahasan Azzam yang tidak sesuai poros itulah yang membuat mood ku membaik dan tak pernah membuat moodku semakin memburuk. Tapi kalau kalian bertanya, apakah Azzam pernah membuatku kesal. Jawabannya pernah kawan, walau hanya sekali. Namun itu benar-benar ceroboh yang luar biasa.
Aku ingat sekali kejadian waktu itu, tepatnya saat liburan semester ganjil awal tahun lalu. Azzam pulang ke kampungnya. Namun pada saat dibandara, handphone nya tertinggal diruang tunggu keberangkatan. Saat dia sudah kembali ke ruang tunggu, handphonenya sudah tidak ada. Saat mengetahui hal itu, aku sangat kesal. Karena handphone itu sebenarnya adalah handphone milikku yang dia tukar-tambah dengan handphonenya. Karena aku sangat kesal dengannya, aku mengembalikan handphone miliknya sambil menggerutu “Abang itu orangnya kalau gak ngomong gawur, yaa ngilangin barang” ucapku ketus kepadanya.

Oke kembali ke cerita, setelah Azzam menutup telepon dariku. Aku bersiap untuk makan sahur, makan sahur kali ini berbeda. Karena abi dan ayah ingin bertemu, jadinya kami makan di sebuah restoran 24 jam yang lumayan jauh dari kos.

Aku menuju lokasi menggunakan transportasi online, sekitar limabelas hingga duapuluh menit perjalan akhirnya kami sampai di resto tersebut. Dari kejauhan aku melihat sosok Azzam dengan penampilan memakai kupluk penutup kepala.
“Penyewaan villa mas?” candaku.
“Assalamualaikum Bi” sapa Azzam kepada abi. Azzam mengabaikanku ternyata, jahat sekali memang.
“Waalaikumsalam Zam, mana Ayahmu?” tanya Abi.
“Sudah didalam bi, ayo masuk bi” Ajak Azzam

Ternyata resto ini cukup ramai walaupun dini hari, mungkin karena banyak orang yang sahur.
“Assalamualaikum Kapten Adam” Ucap Abi
“Waalaikumussalam pak Rahmat” sahut Ayah
“Masya Allah, kamu ga ada perubahan ya Adam. Awet muda rupanya”
“Alhamdulillah pak Rahmat”
Aku dan Azzam tampak bingung dengan kedua laki-laki tua ini. bagaimana bisa kedua pria itu saling kenal.
“Permisi bapak-bapak yang yang terhormat, disini kaum muda kurang faham dengan situasi ini” ucap Azzam memotong pembicaraan ayah dan abi.
“Wah, ini ayahmu Zam. Sudah menyelamatkan Abi waktu dulu disandera oleh perampok liar jalanan. Dan Kapten Adam ini yang membebaskan Abi” Jelas Abi
“Dan ketika ayah dulu di sandera juga oleh pasukan GAM, Pak Rahmat ini orang pertama yang ikut dalam misi penyelamatan ayah” Ayah pun menceritakan kisah heroik Abi.

            Aku baru tau jika Abi dulu pernah hampir mati dan disandera, begitupula dengan Ayah. Aku pun akhirnya percaya jika kepergian Umi dan pertemuanku dengan Dokter Faridha atau orang yang sekarang aku panggil IBU itu bukanlah sebuah kebetulan. Namun memang sudah diskenariokan terlebih dahulu oleh Allah. Dan hari ini, aku benar-benar telah mempercayai bahwa Allah maha benar, ketentuanNya pasti itu yang terbaik untuk kita.

Jumat, 22 Februari 2019

"TEMAN" MASA KECIL


Create By : Amanat Dirgantara

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

Definisi teman dalam kamus besar bahasa indonesia adalah "Orang yang bersama-sama berkerja (Berbuat,berjalan); lawan (bercakap-cakap) . Jika memakai definisi tersebut, jelas saya memiliki banyak sekali teman, mungkin ada ratusan bahkan ribuan teman saya. Namun teman disini saya definisikan berbeda, Teman menurut saya adalah dia yang benar-benar menggoreskan kenangan baik maupun buruk dalam hidup.

Saya pernah tinggal selama kurang-lebih 4.5 tahun di kota padang,sumatera barat. Saya memiliki seorang teman yang sangat dekat dengan saya pada saat masih bersekolah di SDIT Bai'athurridwan kota padang, kami sering belajar bersama dan bermain bersama. tak ada batasan antara kami berdua, dia juga menjadi kompetitor saya dalam meraih gelar "Juara kelas". setiap semester gelar juara kelas terus bergantian antara saya dan dia.

Hingga suatu saat, ketika ayah saya datang untuk menjemput saya. Saya diajak kembali pulang ke tanah kelahiran saya KUALA KAPUAS. dan sahabat saya itu mengetahui kabar tersebut, dia mulai berubah dan menjauh dariku. dia memusuhiku dan mulai membully diriku, bahkan disetiap ulangan saya selalu diejeknya karena nilai saya selalu dibawah dia.

"Kamu gak akan bisa mengalahkanku" ucapnya

Dan memang setelah dia mengatakan itu, rasanya sangat sulit untuk saya mengimbangi dia. begitu juga dengan teman-teman yang lainnya. dia menjadi sombong dan angkuh di semester akhir saya bersekolah disana. dan akhirnya sayapun meninggalkan kota padang dengan perasaan kalah yang sangat menyakitkan.

Kehidupanpun terus berlanjut bukan? saya tetap meneruskan pendidikan saya di tanah borneo yang saya cintai. hingga pada suatu ketika Pada April 2016, takdir Allah mempertemukan kami kembali di Surabaya dalam Olimpiade matematika Nasional. Saya rasa dia semakin sombong pada saat itu, entah kenapa rasa sakit kekalahan yang dulu hilang kini kembali lagi. Darah saya mendidih karena emosi yang sudah tidak bisa terbendung lagi.

"Jauh-jauh dari kalimantan hanya untuk melihatku dari bawah?" tanya nya.

Tak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulutku, aku mengabaikannya. Namun hati kecilku berkata "Aku ingin menang".

Namun memang takdir Allah berkata lain, saya benar-benar melihat dia diatas podium dari bawah. Sahabatku, mengapa engkau begitu membenciku? sudah hilangkah aku didalam dirimu?

Kini aku telah membuang kebencian itu kawan, kembalilah menjadi dirimu yang dulu. dan jika perpisahan waktu itu yang membuatmu terluka, aku sungguh sungguh meminta maaf. aku tak ingin ada kebencian yang ditinggalkan olehku. kawan, jika kau membawa post ku ini. ketahuilah bahwa aku sering lewat depan rumahmu saat aku kembali ke padang.

Selasa, 19 Februari 2019

MASA SMK? ITU PERJUANGANKU !



created by : Amanat Dirgantara

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menulis lagi di Blog ini. hehehe

Kali ini saya akan menceritakan sedikit perjalanan hidup saya, saya lahir dari keluarga yang terpandang dikampung saya. ayah adalah seorang Aparatur sipil negara (ASN), yang kehidupannya memang terjamin dan terpandang di Masyarakat. saya berasal dari sebuah kota kecil bernama KUALA KAPUAS, yang terletak di bagian selatan Kalimantan tengah.



Kisah ini terjadi ketika saya merantau ke sekolah yang termasuk sekolah teknologi modern yang berbasis IT di Kota banjarbaru. iya benar sekali, SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru. dimana orang-orang yang bersekolah disana adalah manusia manusia yang mengikuti pergulatan teknologi masa kini.

Saya yang bisa dikatakan berasal dari kampung yang belum terjamah teknologi modern pun harus berusaha mengimbangi itu semua dengan batas kemampuan saya. contoh kecilnya adalah teman-temanku disana mampu mengaplikasikan ponsel pintar mereka dengan Asyiknya. sedangkan saya, memiliki ponsel pintar saja tidak apalagi harus mengaplikasikannya.

Itu menjadi suatu halangan bagi saya, karena komunikasi mereka menggunakan media sosial yang tidak dimiliki oleh handphone saya (Nokia X2-01). sehingga saya sering tidak mengetahui informasi mengenai tugas dadakan, disaat pelajaran yang memerlukan laptop pun saya harus meminjam ke teman kelas sebelah. saya sering mengerjakan tugas dirumah/kost teman yang memiliki laptop untuk mendapatkan nilai.

Namun itu semua tidak menyurutkan semangat sekolah saya. karena saya tau pengorbanan yang saya lakukan, meninggalkan kampung halaman tercinta untuk mengenyam pendidikan ini pasti akan membuahkan hasil yang sangat manis. pada awal kehidupan di perantauan pun saya kesulitan dalam masalah finansial, saya hanya diberi uang sangu 500 ribu/bulan, itupun dari 4 saudara yang masih menjadi tanggungan orang tua saya saya, uang sangu saya yang paling besar. Namun hanya cukup untuk biaya makan dan transportasi, karena saat awal perantauan saya selalu menggunakan angkot untuk ke sekolah.

Apakah sampai disitu penderitaan saya? jelas tidak. karena gaya hidup teman-teman kota saya yang begitu mudahnya menghamburkan uang. membuat saya yang harus berhemat ini menjauhi mereka dan begitu pula mereka, menganggap saya anti sosial. itulah yang menyebabkan saya hanya memiliki segelintir teman.

Dari situ saya bangkit, saya berusaha dari titik paling rendah dalam hidup saya. Apa yang saya lakukan? Saya memulai semua dari membersihkan Musholla didepan rumah saya, dari hasil menyapu mengepel dan menyikat toilet musholla tersebut saya di upah 100 Ribu/Minggu nya. itu sangat saya syukuri, karena uang itu adalah uang halal pertama yang saya hasilkan dari hasil jerih payah ini. dan pekerjaan ini menjadi solusi dari permasalahan finansial saya. Malu kah saya? jelas tidak. karena hanya segelintir orang yang mendapatkan izin dari Allah.swt untuk membersihkan rumahnya yang suci ini.

Setelah beberapa bulan dan uang hasil mengepel dan menyapu musholla sudah terkumpul, saya ke warnet untuk mencari laptop bekas di situs online agar saya dapat mengerjakan tugas sekolah tanpa harus menumpang lagi. saya menemukan laptop pertama saya yaitu AXIOO mnw c4800 + Modem Axis , dengan harga 650 ribu tanpa harddisk. itu pun saya syukuri karena ini adalah laptop hasil dari keringat saya sendiri.

Terakhir, untuk masalah komunikasi. Alhamdulillah untuk media sosial LINE ternyata dapat diakses melalui PC atau laptop, sehingga dengan ada laptop ini pun benar-benar membantu saya untuk berkomunikasi dan mendapat informasi akan tugas-tugas. bahkan saya menemukan cinta pertama saya dengan menggunakan laptop ini (Sejarah yang harus dicatat). Hehehe :D

Waktu silih berganti, di kelas 11 saya mendapat musibah yang tidak dapat saya ceritakan. dan itu membuat perekonomian keluarga semakin krisis, saya berniat untuk pulang dan sekolah dikampung saya saja karena saya tau biaya sekolah saya ini tidak murah. namun ibu saya menolak dan mengatakan bahwa saya adalah harapan keluarga, ibu saya berkata dia akan melakukan apa saja untuk saya agar tetap bersekolah disini.

Dari kejadian itu pun saya akhirnya memutuskan untuk memulai usaha sambil sekolah, usaha pertama saya adalah Penyewaan Peralatan Outdoor. bermodalkan hasil upah dari magang saya di Jogjakarta, saya membeli beberapa tenda dan perlengkapan outdoor untuk disewakan. Semua pengiklanan dan promosi dilakukan melalui laptop legend pertama saya itu. dan Alhamdulillah di awal-awal saya bisa meraup hingga ratusan ribu rupiah setiap bulannya. dan uang tersebut selain untuk kebutuhan hidup saya, sebagian lagi saya kirimkan kepada ibu saya dikampung.

Menginjak kelas 12 atau kelas 3 SMK, saya berfikir kenapa saya tidak melebarkan sayap saya? pemikiran itupun membuat saya memulai usaha baru. saya menyadari bahwa dikampung saya sulit sekali untuk mencari sepatu. dan kalaupun ada, jaraknya kurang lebih 23 KM dari kampung saya. dan dari situ saya memutuskan untuk membuka bisnis jualan sepatu. lagi, laptop legend satu ini membantu mempromosikannya. dan kau tau kawan? sepatu slop yang saya desain dan saya pasarkan dibeli oleh salah satu ambasaddor ternama, dengan royalti 2,5% dari keuntungan perusahaan tersebut. 

Sehingga di penghujung sekolah saya, saya sudah mengantongi banyak uang untuk meneruskan kuliah dengan biaya saya sendiri. dan hingga saat ini, saya masih mampu kuliah di salah satu perguruan tinggi berbasis IT di pulau jawa. merantau lebih jauh lagi, ke tanah purwokerto yang modern bagaikan surga bagi kami yang tinggal di kampung yang kumuh ini.

Demikian sedikit kisah dari saya, kisah ini saya sampaikan karena banyak teman yang menganggap bahwa orang kalimantan itu identik denga kekayaan dan glamoor.... kalian salah kawan, yang kaya itu hanya sepersekian persen dari jumlah penduduk kalimantan tersebut. sisanya adalah masyarakat kasta mengengah kebawah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 03 Agustus 2018

NILAI KEHIDUPAN

Posted by : Amanat Dirgantara


Ketika keputus asaan itu terpampang nyata. yang ada dibenak hanyak ketidak pastian. yang ada dihadapan hanya masa yang buram. semua menjadi kacau, harapan yang dulu sangat kuat kini harapan itu seakan melayang perlahan turun. yang pada akhirnya akan berada dibawah serta terinjak dan terkubur sedalam lapisan tanah yang melapisi kulit bumi. (Mila Aftah)


Pernah pada suatu ketika, disaat aku masih duduk dibangku kelas 2 smk.
Disaat ulangan semester 1 mata pelajaran matematika. aku hanya menjawab
20 dari 40 soal yang diberikan. karena aku sangat tidak tertarik dengan
mata pelajaran tersebut.

jika dalam hitungan matematis, andaikan jawabanku benar semua maka nilaiku adalah 50
itu jika benar semua, jika ada yang salah? mungkin kurang dari itu kawan.
aku tidak terlalu memikirkan mata pelajaran itu, karena hanya keajaiban saja jika ada
orang yang bisa mendapatkan nilai sempurna di pelajaran itu.
Disaat pengumuman nilai, betapa terkejutnya aku melihat nilaiku
aku mendapatkan nilai sempurna di mata pelajaran itu. bagaimana bisa?
aku bertanya-tanya dalam hati.
agar tidak menjadi penasaran, aku datang menemui guru mata pelajaran tersebut. Sebut saja beliau Mr.H

Dirga : Pak, kok ini nilai saya? bagaimana bisa?
Mr. H : Itulah nilaimu, jangan panik. itu nilaimu.
Dirga : Tapi saya hanya mengerjakan setengahnya, mana bisa dapat 100?
Mr. H : Diatas kertas nilaimu memang dibawah standart. tapi dilain kasus, kamu selalu memperhatikan setiap kata yang saya sampaikan. kemudian kamu mengerjakan tugas yang saya perintahkan, dan kamu mengajarkan apa yang saya ajarkan kepada teman-temanmu. diatas kertas nilaimu memang sangat menyedihkan, tapi saya memberimu nilai penuh karena saya tau soal-soal yang saya berikan hanya berdampak sangat kecil dikehidupanmu yang akan datang. percyalah bahwa nilai yang kau dapat itu adalah tanda saya peduli dengan masa depanmu.

Setelah penjelasan panjang tersebut, aku langsung terdiam dan berfikir bahwa nilai tak semata-mata dari materi namun juga dari usaha kita... dari tingkah laku kita dan dari pengendalian diri kita... kau tau kawan? sejak saat itu aku menyukai pelajaran yang aku benci itu... hingga sekarang aku benar-benar merasakan dampak besar dari matematika tersebut.... yaitu KANADA   :)