Rabu, 25 Desember 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL 3


Sudah enam jam aku berada didalam ruang operasi, Azzam sedari tadi sudah tidak bisa diam menungguku. Akhirnya lampu tanda operasi pun mati, seorang suster keluar dari ruang operasi.
“Bagaiamana suster?” tanya Azzam
“Silahkan tunggu Dokter Fajar di Ruangannya” Ujar suster tersebut
                Suasana mencekam diruang dokter, Abi dan Ibu duduk dikursi saat itu. Sedang Azzam, dia masih harap-harap cemas.
“Silahkan duduk” ucap dokter Fajar saat sampai keruangan
“Dokter, bagaimana kondisi Zahra?” tanya Abi
“Operasinya berjalan Lancar” Ujar Dokter Fajar
“Alhamdulillah” secara bersamaan mereka bertiga mengucap itu.
“Setiap keberhasilan pasti ada sesuatu yang dikorbankan, Penglihatan sebelah kiri Zahra sudah tidak berfungsi lagi” Dokter Fajar mengucapkan hal itu secara hati-hati.
“Zahra cacat?” tanya Abi
“Untuk saat ini iya. Tapi untuk urusan ini mungkin dia bisa melakukan operasi cangkok mata”
“Saya tau ini tidak mudah diterima. Tapi saya ucapkan terimasih yang sedalam-dalamnya pada Dokter Fajar” ucap ibu
                Percakapan menyakitkan itupun akhirnya sampai ketelingaku seminggu kemudian saat perban dimataku dilepas, saat mendengar aku buta sebelah. Aku hanya tersenyum karena aku tidak ingin ada air mata yang keluar dari mata mereka saat itu.
                TOKSOPLASMA, silahkan kau bermukim ditubuhku bersama dengan virus hiv itu. Tapi jangan kau serang orang-orang yang berada dihadapanku ini, biarkan aku saja yang merasakan sakit ini. jangan yang lain.

                Sulit sekali untukku melihat dengan satu mata, aku sering terjatuh saat ingin berjalan ke kamar mandi. Selain itu juga, aku merasa bahwa tubuhku sulit sekali untuk dikendalikan sekarang. Keseimbangan motoric kiri dan kanan pun sudah tidak karuan, sekejam ini kah tuhan memberikan ujian kepadaku?

                Sempat pada satu ketika, aku benar-benar ingin buang air kecil. Namun nahas kaki kiriku nampak seperti memberontak. Tidak ada satupun orang diruangan yang luas ini, “Toloooong” batinku berkata, tapi sayang tidak ada seorangpun disana. Pertahananku sudah jatuh, aku merasakan celanaku sudah basah. Sebegitu lemahnya kah tubuhku saat ini?
                Azzam muncul dari balik pintu masuk, aku memalingkan wajahku dan menangis dihadapannya. Rasa malu memuncak saat ini. Azzam hanya terdiam, wajah tenang khas menghiasi ekspresi dirinya. Kemudian dia Memencet bel darurat dikamar untuk memanggil Suster. Masuklah dua orang suster saat itu, Air mataku masih tetap keluar. Kenapa harus Azzam yang masuk?

                Setelah keadaan sudah membaik, dan aku sudah mulai tenang. Abi memulai pembicaraan kepadaku
“Kenapa ga bilang sama Abi kalau mau ke kamar mandi?” Tanya Abi
“Ia tidak mau menyusahkan orang-orang bi” jawabku
“Justru dengan ego Zahra yang seperti ini, Zahra udah ngerepotin banyak orang” Ucap Abi
                Aku hanya terdiam, entah kenapa aku seperti sulit untuk berfikir beberapa hari ini. mungkin karena memang aku masih merasa terpukul karena aku divonis cacat.
                Azzam membuka pintu kamar dengan membawakan beberapa buah-buahan, aku melihat wajahnya benar-benar tanpa ekspresi seperti banyak sekali masalah yang dia hadapi. Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkannya tapi yang aku tau, ini bukan sosok Azzam yang biasanya.
“Assalamualaikum” ucap Azzam
“Waalaikumussalam Azzam” jawab Abi
“Bi, Azzam sudah pesankan kamar hotel disebelah rumah sakit buat Abi. Abi istirahat dulu aja, biar malam ini Azzam yang menemani Zahra” Ucapnya
“Gapapa Zam, Abi disini aja”
“Abi sudah dua hari belum tidur, gapapa biar Azzam malam ini yang jaga”
                Abi kemudian mengambil Jaket kulit khasnya kemudian berkemas mengenakan sepatunya, dan mengambil kunci kamar hotel di atas meja.
“Abi titip Zahra ya Azzam” ucap Abi
“Siap Bi” jawab Azzam
                Setelah keluar ruangan, Azzam mengambil kursi kemudian duduk disampingku.
“Zahra, sekali lagi abang minta maaf ya” ucapnya
“Maaf kenapa bang?” tanyaku
“Masalah handphone” jawabnya
“Seperti yang biasa ia bilang ke abang, Abang ini orangnya kalau gak suka ngomongnya ngasal. Yaaa ngilangin barang, Ia udah biasa sama sifat abang yang begini” jawabku sedikit tegas kepada Azzam
                Azzam tersenyum, akhirnya wajah yang dari tadi datar tanpa ekspresi pun berubah menjadi berseri-seri.
“Bang, bagaimana keadaan toko Abang” tanyaku
“Sudah gabisa diselamatkan, mungkin abang akan mengulang semuanya lagi dari 0” jawabnya sambil tersenyum
“Ia senang abang sudah berubah” ucapku
“Abang gini-gini aja Ra” jawabnya
“Ibu kapan balik ke sini Bang?” tanyaku
“Besok pagi Insya Allah”
                Setelah percakapan itu, entah karena efek obat atau memang sudah malam. Aku mengantuk kemudian tertidur. Namun kembali terbangun dini hari sekitar pukul 2, saat terbangun aku melihat Azzam telungkup tertidur disebelahku. Tanganku bergerak membenarkan rambutnya yang berantakan.
“Bang, ada beberapa hal yang gabisa ia katakana secara langsung pada abang” ucapku mulai meracau. Pedahal pada saat itu Azzam masih tertidur dengan lelapnya.
“Terimakasih bang, udah selalu ada disisi ia”
“Terimakasih bang atas semua dukungan yang sudah abang berikan kepada Ia”
“Ketika ia melihat abang menemukan mimpi abang, masa depan terlihat jelas. Itu membuat ia Bahagia”
“Abang akan belajar banyak hal dan bertemu dengan banyak orang baru”
                Entah kenapa air mata ini mulai keluar bersamaan dengan kata-kata yang aku lontarkan. Rasa syukur saat ini atas nikmat yang diberikanNya benar-benar membekas didalam hati. Aku selalu memaksimalkan setiap detik dalam hidupku ini.
“Dan mulai sekarang pun, abang akan hidup untuk waktu yang lama. Abang memiliki masa depan membentang tanpa batas”
“Tapi, Berbeda dengan Ia. Masa depan? Bagaimana bisa Ia memikirkan masa depan sekarang? Apa yang bisa Ia lakukan untuk terus hidup?”
                Mungkin hanya itu, hanya itu yang dapat aku pikirkan. Karena memang tidak ada yang dilakukan untuk mengubah perbedaan itu. Aku bertarung dengan diriku setiap hari. Aku menderita, dan ini menyakitkan. Aku berjuang dengan sekuat tenaga untuk menahan perasaan ini.
“Ia berpikir bang, kalau Ia tidak mendapat penyakit ini. Ia akan melakukan hal yang mungkin Ia belum pernah lakukan bersama Abang”
“Ia hanya terus menginginkan mimpi-mimpi yang tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan”
“Ia tidak pernah menyalahkan abang, karena tentu saja itu bukan kesalahan abang”
“Tapi entah kenapa Ia begitu iri, Ia merasa kasihan pada diri sendiri. Bagaimanapun juga dengan diri ini yang sekarang. Ia hanya akan tumbuh lebih menderita. Jika seperti ini terus, Ia tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menatap masa depan”
“Ia Berterima kasih atas banyak hal yang telah abang lakukan untuk Ia”
“Terimakasih Abang telah mengatakan “Aku peduli denganmu”. Kepada orang seperti Ia”
“Terimakasih Bang”
“Maaf Ia tidak dapat melakukan apapun untuk abang sebagai gantinya”
“Hati ini sakit ketika Abang terus berada di Sisi Ia, Sakit karena Ia merasa bersalah sudah mengekang Abang dalam kehidupan Ia yang menyedihkan ini”
                Aku menatap wajah Azzam, terlihat dari kelopak matanya. Dia mengeluarkan airmata, yang artinya sedari tadi Azzam mendengar perangai ku.
“Abang udah bangun?” tanyaku. Kemudian Azzam menegakkan kepalanya dan mulai menghela nafas Panjang.
“Sama-sama” Jawab Azzam sambil menyeka airmatanya.
“Kenapa kamu begitu pesimis pada keadaan?” lanjut Azzam
                Aku tak dapat menjawab, hanya suara tangis yang keluar dari mulutku. Bahkan aku seperti setengah mengamuk karena mungkin merasa bersalah. Azzam mencoba menenangkanku, berkali-kali dia membenarkan jilbabku yang berantakan. Sampai akhirnya dia beranjak dari kursi disebelahku dan duduk di Sofa dan merenungi keadaam.

                Setiap aku mengingat masa lalu, itu membuat air mataku keluar. Kenyataan begitu kejam, begitu brutal, aku bahkan tidak bisa bermimpi. Memikirkan masa depan hanya akan membawa air mata ini keluar lagi. Apa tujuan aku hidup? Kemana aku harus pergi? Meskipun tidak ada jawaban, setidaknya aku merasa lebih baik dengan menuliskan ini semua. Aku mencari uluran tangan, tapi aku tidak bisa merasakannya, aku tidak bisa melihatnya. Yang bisa aku lihat hanyalah kegelapan. Lalu mendengar suara dari jeritan keputusasaanku.

FINNA ABIDA AZZAHRA

Kamis, 11 Juli 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL 2



MENCINTAIMU DALAM DIAM


Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.


            Ketika aku sudah mulai beradaptasi dengan tempat ini, banyak sesuatu yang terjadi di kota yang berjuluk “Kota Satria”. Setiap malamnya aku selalu berdoa agar dilindungi setiap harinya oleh Allah swt.
            Aku ingat satu momen ketika aku berniat ke tempatnya membawakan makanan sebagai rasa terimakasihku kepadanya karena kemarin dia sudah membantuku. Jarak rumahku dengan tempatnya tinggal lumayan jauh, sekitar 4 Kilometer.

            Sesampainya disana, terlihat pintu rumah itu tidak tertutup.

“Assalamualaikum” Salamku kepada orang yang ada didalam rumah
“Waalaikumsalam Zahra, ada apa nih Zahra?” Sahut dan tanya Reza kepadaku
“Bang Azzamnya ada Za?” tanyaku
“Azzam aja yang dipanggil abang” gumamnya kecil, namun aku mendengarnya.
“Kenapa Za?” tanyaku
“Enggak, Azzamnya ada didalem. Masuk aja” Jawab Reza

            Aku duduk diruang tamu, sedangkan Reza masuk kedalam untuk memanggil Azzam.

“Zam, ada Zahra tuh” ucap Reza
“Zahra? Ngapain tuh anak kesini?” tanya Azzam
“Ya harusnya gua yang nanya Zam”
“Yaudah, samperin lah. gimana sih” ucap Azzam dengan nada sedikit meninggi.

            Kemudian Azzam datang menemui dengan membawa sebotol air minum

“Maaf Cuma air mineral, karena hanya ini yang aku punya” Ucap pembuka Azzam.
“Gapapa Bang Azzam, Tujuan saya kesini juga bukan mau minta air kok” Ucapku
Sambil tersenyum Azzam berkata “Yasudah, ambil saja”
“apa tujuanmu kesini?” tanya Azzam sinis
“Ini Bang, saya mebawakan makanan buat kamu. Karena kemarin sudah bantuin saya pada saat kuis” ucapku sambil menyerahkan beberapa makanan
“Makasih ya sebelumnya, maaf merepotkanmu” ucap Azzam
“Sama-sama bang Azzam. Saya pamit pulang dulu bang” ucapku sekalian pamit.
“Iya Zahra. Silahkan”

            Azzam mengantarku sampai depan gang, sembari menunggu transportasi online.

“Zahra, hati-hati ya” ucap Azzam
“Insya Allah bang” Jawabku tersipu
“Itu Ojeknya sudah datang, kabarin kalau sudah sampai”
“Iya, pulang dulu ya” ucapku.
            Mungkin itu kata-kata yang biasa, namun sepertinya kata-kata yang dilontarkan oleh Azzam terlalu berbekas. Apa arti dari perasaan ini? Entahlah, semoga ini menjadi pertanda baik untukku kedepannya.

“Zam, enak tuh kayaknya” ucap Reza
“Makan aja, abisin. Gapapa kok” Jawab Azzam
“Loh? Kenpapa?” tanya Reza
“Gua bingung aja sama tuh anak, udah tau gua gabisa makan keju. Dikasih pisang keju” Ucap Azzam sedikit emos.
“Yaudah, buat gua ya”
“Ambillah, Ambil abisin lah, mau muntah gua liat keju”
            Keesokan harinya, saat dikampus aku melihat Azzam dan Rezza sedang berjalan berdua memasuki lobi.
“Assalamualaikum Bang Azzam, Reza” Sapaku
“Waalaikumussalam Zahra, adem banget deh. Dipagi-pagi disalamin sama calon istri sholehah” ucap Reza.
“Kumsalam” Jawab Azzam singkat.
“Bang Azzam, jawab salamnya kok gitu?” ucapku kelepasan.
“Yaa terserah gua dong, mau jawab gimana juga”ucap Azzam kesal
“Abang Azzam lagi kenapa? Kok gak biasanya?” tanyaku
“Pikir aja sendiri” Jawabnya, kemudian Azzam pergi meninggalkan kami berdua.
“Reza, Bang Azza, kenapa?” tanyaku pada Reza
“Mungkin kesel karena kemaren” jawabnya
“Kesel??” aku semakin bingung apa yang terjadi
“Gini, gua tanya deh ke elu Ra. Kemaren lu ngasih apa ke Azzam?” tanya Reza
“Pisang keju” jawabku

            Seketika aku teringat sebuah kejadian dirumah Rifan malam itu.
“Astagfirullahal adzim” Lanjutku
“Lu tau kan Ra, Azzam sama keju itu punya hubungan yang kurang baik?” ucap Reza
“Saya lupa Za, bagaimana ini?” tiba-tiba air mata bersalah ini menetes begitu saja
“Udah udah, biar gua aja yang urus tuh Anak” Reza kemudian pergi menyusul Azzam.
            Aku merasa malu sekali karena kejadian itu, aku bingung harus melakukan apa. Dengan perasaan yang tak karuan ini, aku mencoba masuk kedalam kelas.

“Zam, itu mata lu kok kuning?” tanya Reza yang terdengar oleh telingaku.
“Gapapa, kecapean aja kali” jawab Azzam
“Lu bukan habis makan pisang keju kemarin kan?” tanya Reza
“Makan sih, sedikit”
“Kok lu makan sih?”
“Namanya juga rezeki Za, masa ditolak sih. Yang ngasih itu Zahra lagi” Ucap Azzam
            Ucapan Azzam pun membuatku terkejut bukan main, apa maksudnya?
“Lu diem2 lu makan tuh pisang keju? Sampai segitunya, lu suka ya sama Zahra?” Reza benar-benar mengintrograsi Azzam.
“Ya Enggak lah, aneh-aneh aja lu nanya nya” jawab Azzam sedikit gugup
“Berarti Zahra bisa buat gua ya” ucap Reza
“Ya kalau di mau Za”
“Kalau mau gimana?”
“Ambil aja, urusannya sama gue apasih Za? Gua bapanya? Bukan kan.” Jawab Azzam sinis
“Iya sih ya”
“Udah Za, tuh Dosen lu udah masuk. Sonoh gih”
“Satu lagi Zam, dan Jawab yang Jujur. Lu nganggep Zahra itu apa? Sepertinya sinis terus lu sama dia?” Tanya Reza Serius
“Bukannya sinis sih Za, gua lebih ke cari aman. Karena cewek kayak dia itu tipe yang pembawa sial, biang masalah” ucap Azzam tanpa perasaan
            Aku syok mendengar kata-kata Azzam yang blak-blakan itu.
            Dengan penuh emosi dalam hati, aku yang sedari tadi hanya menguping dari balik dindingpun menghampiri mereka berdua.
“Bang Azzam, Reza” Ucapku
“Zahra” ucap Azzam dan Reza berbarengan.
“Sebenarnya tadi saya ingin minta maaf ke kamu Zam, sepertinya gajadi” ucapku sedikit menangis
“Zahra” Reza memanggilku
“Kau tau Zam, di dunia ini tidak ada yang namanya pembawa sial. Dan jika kamu menganggapku seperti itu. Maka aku sudah sudah salah menilaimu” Nada bicaraku sudah mulai meninggi.
“Kata-kata itu sudah benar-benar merubah pandangan saya terhadapmu” Lanjutku.
            Kemudian tanpa sadar tubuhku berjalan sendiri kedalam kelas, kepalaku langsung merunduk menangis diatas meja.
“Zahra” Teriak Azzam
“Zam, gua duluan ke kelas. Ini masalah lu, lu harus menyelesaikannya sendiri” ucap Reza
“Za, lu juga salah Za. Nanya macam-macam sih” ucap Azzam emosi.
            Azzam kemudian masuk kedalam kelas, namun Rifan langsung menahannya untuk menemuiku.
“Zam, ikut gua dulu” ucap Rifan
“Disini aja gapapa” jawab Azzam
“Temen-temen, kelas kosong pagi ini. Dimohon untuk pulang aja” ucap Rifan
“Kosong?” tanya teman-teman kelas.
“Iya, tadi saya baru dapat informasi bahwa kelas hari ini dikosongkan” jawab Rifan
            Setelah hampir kosong, yang tersisa hanya aku,Ema,Rifan,Dimas dan Azzam. Rifan mencoba menyelesaikan masalah ini.
“Kalian berdua kenapa sih? Kemarin kayaknya baik-baik aja” Tanya Rifan
“Gapapa Fan, dia nya aja yang perasa” Jawab Azzam sinis.
“Zam, apa gabisa bicara itu ditata dulu” ucap Dimas sedikit emosi
“Apaan lu, ikut-ikut juga. Mending lu pulang” Azzam sudah tidak bisa menahan emosinya
            Kemudian Dimas menyerang Azzam, namun saat Azzam ingin menyerang. Rifan disana untuk menahannya. Aura kelas menjadi berat sekali rasanya, mungkin karena aku. Azzam mungkin benar, aku adalah biang masalah.

            Azzam kemudian pulang bersama dengan Rifan, Mungkin sekarang yang bisa memahami Azzam adalah Rifan. Saat Ospek pun mereka lah yang dua orang yang paling solid.
“Zam, lu bilang tadi, Zahra itu perasa. Maksudnya gimana?” Tanya Rifan memulai pembicaraan
“Belakangan kan gua sama dia mulai dekat, nah itu sumber masalahnya” Jawab Azzam
“Terus?”
“Suci cemburu karenanya. Nah sebab itulah gua mulai sinis buat menghindari dia” lanjut Azzam
“Perkataan apa yang membuat Zahra menangis seperti tadi?” tanya Rifan
“Gua bilang dia pembawa sial” jawab Azzam pelan
“Gila lu Zam, bilang gitu dihadapan Zahra?”
“Enggak Fan, gua ngomong sama Reza. Ternyata dia dengar dari belakang” ucap Azzam menjelaskan keadaan
“Kok lu bisa-bisanya bilang kaya gitu, walaupun ke Reza?” tanya Rifan benar-benar penasaran
“Reza juga mantannya Suci, gua takut aja dia ngelapor ke Suci kalau Zahra sering bersama gua belakangan ini” jawab Azzam
“Terlebih, suci kemarin siang marah besar sama gua karena tau sosok Zahra” lanjutnya
“Lah, darimana dia tau Zam?”
“Ga tau, makanya gua curiga kalau Reza yang ngelaporin, tapi yaudah lah. Selagi suci masih bisa gua tenangin, semua aman. Tapi gua takut kalau itu terjadi untuk yang kedua kalinya” Jelas Azzam.
“Zam, ini masalah salah faham Zam. Gua bisa nolongin lu minta maaf ke Zahra, dia lagi ditaman. Sama Ema. Yuk Kesana” Ajak Rifan
“Yaudah lah, ayok” sahut Azzam.

            Sementara itu, di Alun-alun kota. Dimas dan Ema masih menenangkanku, tujuan ke Alun alun kota juga sebenarnya untuk menghiburku. Namun semua itu gagal.
“Ra, lu mau nonton gak. Mumpung didepan ada bioskop tuh” ucap Ema
“Yaudah Ema, lu belikan Aja buat kita bertiga dulu” sahut Dimas
“Oke Dim, jagain Zahra ya” ucap Ema

            Kemudian Ema meninggalkan kami berdua, dia pergi untuk membeli tiket nonton bioskop
“Udah Ra, kita nunggu disini ya” ucap Dimas
“Iya, Terimakasih Ya Dim” jawabku.

            Disaat hatiku sudah mulai tenang, dan suasana perasaan ini sudah mulai kondusif, aku menatap jelas dua bola mata yang menatapku, tatapan Dimas begitu dalam kepadaku. Jantungku berdegup tak karuan, namun deguban ini berbeda dengan perasaan jika aku menatap Azzam. Aku cenderung merasa takut menatap mata Dimas.

“PACARAN TEROOOS” Teriak Azzam dari belakang, teriakan itu membuatku takut.

            Namun, sepertinya teriakan itu bukanlah teriakan penuh emosi seperti sebelumnya. Melainkan teriakan candaan sapa khas yang sering dilontarkan oleh Azzam.

            Senyumannya membuatku malah ingin menghampirinya, pedahal bisa saja aku berbalik badan kemudian menjauh, tapi aku malah bertanya, selemah itukah badan dan jiwa diberikan Allah untukku? Tidak!!

Karena Allah akan selalu menjagaku. Aku akan terus berlari kedepan..Setiap doa heningku saat bersujud, aku percaya...di langit sana menggema dan didengar oleh Allah...ya rab segalanya, Rab penuntun takdirku. Insha Allah.

“Assalamualaikum” Salam Azzam
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat sore Zam” Jawabku terpaku menatap senyumnya.
            Azzam kemudian memberikan susu beruang kepadaku. Kemudian memberikan isyarat kepada Rifan untuk membawa Dimas, tujuannya jelas. Agar kami dapat berbicara empat mata saja.

“Zahra gua minta maaf atas kejadian tadi pagi” Buka Azzam
“Saya akan sangat mudah memaafkan orang Zam, marah saya tidak pernah sampai ke hati. Tapi kata-katamu tadi pagi itu benar-benar merasuk kedalam hati saya” Jawabku
“Tolong tinggalkan saya sendiri” usirku halus
“Buat yang ini juga gua minta maaf, gua gabisa ninggalin elu. Pertama, ini sudah sore. dan yang kedua masalah kita ini gabisa diselesaikan dalam diam” ucap Azzam
“Kenapa seorang Azzam bisa mengatakan hal yang sekejam itu?” tanyaku dengan air mata tangis yang keluar.

            Terlihat dari kejauhan, Ema dan Dimas ingin menghampiriku. Namun ditahan oleh Rifan, karena masalah ini adalah masalah antara aku dan Azzam. Bukan masalah mereka.

“Ema, Dimas. Biarkan saja mereka, bisa kalian lihat, tatapan mereka. Azzam jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam, sudah jatuh cinta kepada Zahra. Begitu juga Zahra, hatinya sudah menjadi milik Azzam. Dari tatapan itu, kita tau mereka saling mencintai tanpa harus diucapkan kepada kita” ucap Rifan kepada Ema dan Dimas


            Azzam dengen sedikit menunduk, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Gua juga gamau berkata kaya gitu, semua ada alasannya. Alasan pertama karena Reza sudah sangat kenal denganmu dan gua takut kalau silaturahmi antara lu dan Reza renggang karena gua. Dan yang kedua, ini lebih penting karena….”
“Karena Suci?” ucapku memotong penjelasan Azzam

Azzam hanya terdiam mendengar ucapanku tadi. Namun dia mencoba tetap tenang dan tidak emosi

“Abang ga perlu bingung begitu, karena kebodohan yang abang buat. Saya mengetahui siapa sosok suci itu” lanjutnku
“Iya, seperti itulah. Maaf ya” Ucap Azzam

            Mendengar ucapan maaf dari Azzam membuatku bertekad untuk mencintainya dalam diam. Aku teringat sebuah pesan yang sering kali membuat bulu kudukku merinding, hatiku bergetar dan rasanya tak pernah ingin hal itu terjadi padaku. Yaitu pesan yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa “ketika kita terlalu berharap pada seseorang, Allah SWT akan timpakan pada kita pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah SWT sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain dia. Maka Allah SWT akan menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadanya

            Aku sudah khilaf, dan Allah SWT kembali membukakan mataku. Hari ini aku belajar, bahwa satu-satunya yang bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri. Kita tidak bisa berbuat baik pada orang dan berpikir orang tersebut akan melakukan hal yang sama pada kita. Kita hanya bisa berharap pada Allah SWT.

            Astagfirullahal Adzim, maafkan hambamu ini ya Allah. Karena aku telah khilaf dan tanpa sadar telah berharap kepada makhlukmu itu, berharap untuk bisa terus melihatnya, berharap untuk selalu berada disisinya. Ini salahku, sepenuhnya salahku, aku telah telah melupakanMu karena dirinya. Dan kini akupun harus menanggung segala akibatnya, aku tau ini adalah ujian darimu ya Allah.
            Kau beri aku dua pilihan, yaitu mencintainya dalam diam, dalam sabar hingga waktunya tiba. Atau mengikuti nafsuku sendiri kepadanya. Dan inilah jawabanku : “Demi Engkau, Zat yang membolak-balikkan hati manusia. Demi Abi ku dan Demi Almarhumah Umi. Aku akan sabar dengan mencintainya dalam diam, karena aku yakin setiap liku sungai pasti ada muaranya dan setiap ujian pun akan ada solusinya serta kebahagiaan setelahnya. Bismillahirahmanirrahim.

“Iya bang, tidak apa-apa. Ia Faham” ucapku kepadanya
“Ia?” tanya Azzam
“Iya, kata “Saya” terlalu kasar untuk orang yang baik seperti abang” ucapku dengan senyum patah hati.
“Yasudah Bang, Ia permisi pulang dulu” Lanjutku berpamitan pada Azzam
            Saat aku berbalik badan dan berjalan, tiba-tiba Azzam berteriak keras sekali.

“Finna Abida Azzahra” teriak Azzam.
            Teriakan itu sontak membuatku berbalik, namun hanya terdiam dan tak mampu melangkah.

“Maaf jika aku melukai hati dan mematahkan harapanmu” ucap Azzam
“Tapi Abang mohon kepada Zahra. Abang berharap, kita bisa menahan perasaan kita masing-masing. Sampai nanti saatnya tiba” Lanjutnya
            Kemudian Azzam menghampiriku, dan membukakan susu beruang yang dia berikan tadi. Kemudian menyerahkannya lagi kepadaku.

“Insya Allah, Takdir Allah akan mempersatukan kita. Apapun yang terjadi” Ucap Azzam
“Amiiin Ya Rabbal Alamin” Ucapku tersenyum
“Abang adalah yang kedua setelah Abi dan mungkin akan menjadi yang terakhir untuk ia Bang, Abang yang paling pantas untuk itu” lanjutku
“Alhamdulillah” Ucap Syukur Azzam.

            Kawan, Di dunia ini jika kita punya masalah seberat apapun, kita memang wajib berserah kepada Allah, namun, kita juga bisa meminta bantuan sahabat terdekat.
Bukan hanya hablumminallah yang harus kita jaga, tapi juga hablumminannas atau hubungan sesama manusia.  Karena pada dasarnya manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain.
Artinya kita tidak akan bisa hidup normal jika tidak melakukan hubungan dengan orang lain. Dan ketika kita menemukan teman atau sahabat karib, kita patut bersyukur karena itu adalah salah 1 kenikmatan yang Allah berikan pada kita.
Innallaha Ma’ana.. sesungguhnya Allah bersama kita.
FINNA ABIDA AZZAHRA
OKTOBER 2017

Jumat, 01 Maret 2019

SECARIK KISAH "FAIR" YANG TERTINGGAL





Created by : Amanat Dirgantara


Purwokerto
Perkenalkanlah, namaku Finna Abida Azzahra. Kalian akan lebih bisa mengenalku jika kalian membaca buku FAIR . Karena rasanya sangat aneh jika harus berkenalan 2 kali kepada orang yang sama.

Kisah ini terjadi di awal bulan suci Ramadhan 1439 Hijriah. Tepatnya tanggal 29 Mei 2018 lalu, aku terbangun oleh Alarmku sendiri. Namun rasa kantuk malam itu mengalahkan suara alarmku rasanya, Abi terbangun dan mematikan suara berisik itu.
“Jangan lupa bangunkan Azzam” bisik abi kepadaku.
Tiba-tiba rasa kantuk tadi hilang begitu saja ketika aku mendengar nama manusia istimewa itu, tanpa aba-aba sedikitpun aku menelpon Azzam.
Kriiiiing kriing, handphone Azzam berbunyi (Memang ringtonenya seperti itu).
Ayah melihat handphone Azzam yang berbunyi, sambil tersenyum melihat namaku memanggil. Kemudian beliau melempar handuk basah bekas mandi itu ke wajah Azzam.
“Kenapa yah?” tanya Azzam
“Berhutang sama siapa kamu zam? Sampai ditelpon depkolektor?” ucap ayah iseng
Azzam bangun dengan perasaan kesal kemudian mengangkat telepon ku,
“Ibu mentri, terimakasih sudah membangunkan salah satu rakyatmu” ucap Azzam.
“Assalamualaikum Uda Azzam. Ayo sahur, ajak ayah sekalian” jawabku sambil tertawa
“Waalaikum mussalam tuan putri. Siap tuan putri, kamu juga ajak Abi ya. Aku ingin melihat kalau TNI Beradu Tatap tanpa kedip sama pak Polisi itu bisa menang gak ya?” Tanya nya ngelantur
Terkadang bahasan Azzam yang tidak sesuai poros itulah yang membuat mood ku membaik dan tak pernah membuat moodku semakin memburuk. Tapi kalau kalian bertanya, apakah Azzam pernah membuatku kesal. Jawabannya pernah kawan, walau hanya sekali. Namun itu benar-benar ceroboh yang luar biasa.
Aku ingat sekali kejadian waktu itu, tepatnya saat liburan semester ganjil awal tahun lalu. Azzam pulang ke kampungnya. Namun pada saat dibandara, handphone nya tertinggal diruang tunggu keberangkatan. Saat dia sudah kembali ke ruang tunggu, handphonenya sudah tidak ada. Saat mengetahui hal itu, aku sangat kesal. Karena handphone itu sebenarnya adalah handphone milikku yang dia tukar-tambah dengan handphonenya. Karena aku sangat kesal dengannya, aku mengembalikan handphone miliknya sambil menggerutu “Abang itu orangnya kalau gak ngomong gawur, yaa ngilangin barang” ucapku ketus kepadanya.

Oke kembali ke cerita, setelah Azzam menutup telepon dariku. Aku bersiap untuk makan sahur, makan sahur kali ini berbeda. Karena abi dan ayah ingin bertemu, jadinya kami makan di sebuah restoran 24 jam yang lumayan jauh dari kos.

Aku menuju lokasi menggunakan transportasi online, sekitar limabelas hingga duapuluh menit perjalan akhirnya kami sampai di resto tersebut. Dari kejauhan aku melihat sosok Azzam dengan penampilan memakai kupluk penutup kepala.
“Penyewaan villa mas?” candaku.
“Assalamualaikum Bi” sapa Azzam kepada abi. Azzam mengabaikanku ternyata, jahat sekali memang.
“Waalaikumsalam Zam, mana Ayahmu?” tanya Abi.
“Sudah didalam bi, ayo masuk bi” Ajak Azzam

Ternyata resto ini cukup ramai walaupun dini hari, mungkin karena banyak orang yang sahur.
“Assalamualaikum Kapten Adam” Ucap Abi
“Waalaikumussalam pak Rahmat” sahut Ayah
“Masya Allah, kamu ga ada perubahan ya Adam. Awet muda rupanya”
“Alhamdulillah pak Rahmat”
Aku dan Azzam tampak bingung dengan kedua laki-laki tua ini. bagaimana bisa kedua pria itu saling kenal.
“Permisi bapak-bapak yang yang terhormat, disini kaum muda kurang faham dengan situasi ini” ucap Azzam memotong pembicaraan ayah dan abi.
“Wah, ini ayahmu Zam. Sudah menyelamatkan Abi waktu dulu disandera oleh perampok liar jalanan. Dan Kapten Adam ini yang membebaskan Abi” Jelas Abi
“Dan ketika ayah dulu di sandera juga oleh pasukan GAM, Pak Rahmat ini orang pertama yang ikut dalam misi penyelamatan ayah” Ayah pun menceritakan kisah heroik Abi.

            Aku baru tau jika Abi dulu pernah hampir mati dan disandera, begitupula dengan Ayah. Aku pun akhirnya percaya jika kepergian Umi dan pertemuanku dengan Dokter Faridha atau orang yang sekarang aku panggil IBU itu bukanlah sebuah kebetulan. Namun memang sudah diskenariokan terlebih dahulu oleh Allah. Dan hari ini, aku benar-benar telah mempercayai bahwa Allah maha benar, ketentuanNya pasti itu yang terbaik untuk kita.

Jumat, 22 Februari 2019

"TEMAN" MASA KECIL


Create By : Amanat Dirgantara

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

Definisi teman dalam kamus besar bahasa indonesia adalah "Orang yang bersama-sama berkerja (Berbuat,berjalan); lawan (bercakap-cakap) . Jika memakai definisi tersebut, jelas saya memiliki banyak sekali teman, mungkin ada ratusan bahkan ribuan teman saya. Namun teman disini saya definisikan berbeda, Teman menurut saya adalah dia yang benar-benar menggoreskan kenangan baik maupun buruk dalam hidup.

Saya pernah tinggal selama kurang-lebih 4.5 tahun di kota padang,sumatera barat. Saya memiliki seorang teman yang sangat dekat dengan saya pada saat masih bersekolah di SDIT Bai'athurridwan kota padang, kami sering belajar bersama dan bermain bersama. tak ada batasan antara kami berdua, dia juga menjadi kompetitor saya dalam meraih gelar "Juara kelas". setiap semester gelar juara kelas terus bergantian antara saya dan dia.

Hingga suatu saat, ketika ayah saya datang untuk menjemput saya. Saya diajak kembali pulang ke tanah kelahiran saya KUALA KAPUAS. dan sahabat saya itu mengetahui kabar tersebut, dia mulai berubah dan menjauh dariku. dia memusuhiku dan mulai membully diriku, bahkan disetiap ulangan saya selalu diejeknya karena nilai saya selalu dibawah dia.

"Kamu gak akan bisa mengalahkanku" ucapnya

Dan memang setelah dia mengatakan itu, rasanya sangat sulit untuk saya mengimbangi dia. begitu juga dengan teman-teman yang lainnya. dia menjadi sombong dan angkuh di semester akhir saya bersekolah disana. dan akhirnya sayapun meninggalkan kota padang dengan perasaan kalah yang sangat menyakitkan.

Kehidupanpun terus berlanjut bukan? saya tetap meneruskan pendidikan saya di tanah borneo yang saya cintai. hingga pada suatu ketika Pada April 2016, takdir Allah mempertemukan kami kembali di Surabaya dalam Olimpiade matematika Nasional. Saya rasa dia semakin sombong pada saat itu, entah kenapa rasa sakit kekalahan yang dulu hilang kini kembali lagi. Darah saya mendidih karena emosi yang sudah tidak bisa terbendung lagi.

"Jauh-jauh dari kalimantan hanya untuk melihatku dari bawah?" tanya nya.

Tak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulutku, aku mengabaikannya. Namun hati kecilku berkata "Aku ingin menang".

Namun memang takdir Allah berkata lain, saya benar-benar melihat dia diatas podium dari bawah. Sahabatku, mengapa engkau begitu membenciku? sudah hilangkah aku didalam dirimu?

Kini aku telah membuang kebencian itu kawan, kembalilah menjadi dirimu yang dulu. dan jika perpisahan waktu itu yang membuatmu terluka, aku sungguh sungguh meminta maaf. aku tak ingin ada kebencian yang ditinggalkan olehku. kawan, jika kau membawa post ku ini. ketahuilah bahwa aku sering lewat depan rumahmu saat aku kembali ke padang.

Selasa, 19 Februari 2019

MASA SMK? ITU PERJUANGANKU !



created by : Amanat Dirgantara

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menulis lagi di Blog ini. hehehe

Kali ini saya akan menceritakan sedikit perjalanan hidup saya, saya lahir dari keluarga yang terpandang dikampung saya. ayah adalah seorang Aparatur sipil negara (ASN), yang kehidupannya memang terjamin dan terpandang di Masyarakat. saya berasal dari sebuah kota kecil bernama KUALA KAPUAS, yang terletak di bagian selatan Kalimantan tengah.



Kisah ini terjadi ketika saya merantau ke sekolah yang termasuk sekolah teknologi modern yang berbasis IT di Kota banjarbaru. iya benar sekali, SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru. dimana orang-orang yang bersekolah disana adalah manusia manusia yang mengikuti pergulatan teknologi masa kini.

Saya yang bisa dikatakan berasal dari kampung yang belum terjamah teknologi modern pun harus berusaha mengimbangi itu semua dengan batas kemampuan saya. contoh kecilnya adalah teman-temanku disana mampu mengaplikasikan ponsel pintar mereka dengan Asyiknya. sedangkan saya, memiliki ponsel pintar saja tidak apalagi harus mengaplikasikannya.

Itu menjadi suatu halangan bagi saya, karena komunikasi mereka menggunakan media sosial yang tidak dimiliki oleh handphone saya (Nokia X2-01). sehingga saya sering tidak mengetahui informasi mengenai tugas dadakan, disaat pelajaran yang memerlukan laptop pun saya harus meminjam ke teman kelas sebelah. saya sering mengerjakan tugas dirumah/kost teman yang memiliki laptop untuk mendapatkan nilai.

Namun itu semua tidak menyurutkan semangat sekolah saya. karena saya tau pengorbanan yang saya lakukan, meninggalkan kampung halaman tercinta untuk mengenyam pendidikan ini pasti akan membuahkan hasil yang sangat manis. pada awal kehidupan di perantauan pun saya kesulitan dalam masalah finansial, saya hanya diberi uang sangu 500 ribu/bulan, itupun dari 4 saudara yang masih menjadi tanggungan orang tua saya saya, uang sangu saya yang paling besar. Namun hanya cukup untuk biaya makan dan transportasi, karena saat awal perantauan saya selalu menggunakan angkot untuk ke sekolah.

Apakah sampai disitu penderitaan saya? jelas tidak. karena gaya hidup teman-teman kota saya yang begitu mudahnya menghamburkan uang. membuat saya yang harus berhemat ini menjauhi mereka dan begitu pula mereka, menganggap saya anti sosial. itulah yang menyebabkan saya hanya memiliki segelintir teman.

Dari situ saya bangkit, saya berusaha dari titik paling rendah dalam hidup saya. Apa yang saya lakukan? Saya memulai semua dari membersihkan Musholla didepan rumah saya, dari hasil menyapu mengepel dan menyikat toilet musholla tersebut saya di upah 100 Ribu/Minggu nya. itu sangat saya syukuri, karena uang itu adalah uang halal pertama yang saya hasilkan dari hasil jerih payah ini. dan pekerjaan ini menjadi solusi dari permasalahan finansial saya. Malu kah saya? jelas tidak. karena hanya segelintir orang yang mendapatkan izin dari Allah.swt untuk membersihkan rumahnya yang suci ini.

Setelah beberapa bulan dan uang hasil mengepel dan menyapu musholla sudah terkumpul, saya ke warnet untuk mencari laptop bekas di situs online agar saya dapat mengerjakan tugas sekolah tanpa harus menumpang lagi. saya menemukan laptop pertama saya yaitu AXIOO mnw c4800 + Modem Axis , dengan harga 650 ribu tanpa harddisk. itu pun saya syukuri karena ini adalah laptop hasil dari keringat saya sendiri.

Terakhir, untuk masalah komunikasi. Alhamdulillah untuk media sosial LINE ternyata dapat diakses melalui PC atau laptop, sehingga dengan ada laptop ini pun benar-benar membantu saya untuk berkomunikasi dan mendapat informasi akan tugas-tugas. bahkan saya menemukan cinta pertama saya dengan menggunakan laptop ini (Sejarah yang harus dicatat). Hehehe :D

Waktu silih berganti, di kelas 11 saya mendapat musibah yang tidak dapat saya ceritakan. dan itu membuat perekonomian keluarga semakin krisis, saya berniat untuk pulang dan sekolah dikampung saya saja karena saya tau biaya sekolah saya ini tidak murah. namun ibu saya menolak dan mengatakan bahwa saya adalah harapan keluarga, ibu saya berkata dia akan melakukan apa saja untuk saya agar tetap bersekolah disini.

Dari kejadian itu pun saya akhirnya memutuskan untuk memulai usaha sambil sekolah, usaha pertama saya adalah Penyewaan Peralatan Outdoor. bermodalkan hasil upah dari magang saya di Jogjakarta, saya membeli beberapa tenda dan perlengkapan outdoor untuk disewakan. Semua pengiklanan dan promosi dilakukan melalui laptop legend pertama saya itu. dan Alhamdulillah di awal-awal saya bisa meraup hingga ratusan ribu rupiah setiap bulannya. dan uang tersebut selain untuk kebutuhan hidup saya, sebagian lagi saya kirimkan kepada ibu saya dikampung.

Menginjak kelas 12 atau kelas 3 SMK, saya berfikir kenapa saya tidak melebarkan sayap saya? pemikiran itupun membuat saya memulai usaha baru. saya menyadari bahwa dikampung saya sulit sekali untuk mencari sepatu. dan kalaupun ada, jaraknya kurang lebih 23 KM dari kampung saya. dan dari situ saya memutuskan untuk membuka bisnis jualan sepatu. lagi, laptop legend satu ini membantu mempromosikannya. dan kau tau kawan? sepatu slop yang saya desain dan saya pasarkan dibeli oleh salah satu ambasaddor ternama, dengan royalti 2,5% dari keuntungan perusahaan tersebut. 

Sehingga di penghujung sekolah saya, saya sudah mengantongi banyak uang untuk meneruskan kuliah dengan biaya saya sendiri. dan hingga saat ini, saya masih mampu kuliah di salah satu perguruan tinggi berbasis IT di pulau jawa. merantau lebih jauh lagi, ke tanah purwokerto yang modern bagaikan surga bagi kami yang tinggal di kampung yang kumuh ini.

Demikian sedikit kisah dari saya, kisah ini saya sampaikan karena banyak teman yang menganggap bahwa orang kalimantan itu identik denga kekayaan dan glamoor.... kalian salah kawan, yang kaya itu hanya sepersekian persen dari jumlah penduduk kalimantan tersebut. sisanya adalah masyarakat kasta mengengah kebawah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.